NUIM HIDAYAT

Warisan Literasi dan Teladan Berharga dari Seorang Bapak

Oleh: Nuim HidayatDirektur Forum Studi Sosial Politik.

Saya tinggal di sebuah desa bernama Kuncen, Padangan, Bojonegoro. Desa ini terletak hanya tiga kilometer dari Kota Cepu dan 32 kilometer dari Kota Bojonegoro.

Kuncen bukanlah desa yang memiliki hamparan sawah yang luas, melainkan sebuah desa semiperkotaan. Rumah saya terletak tepat di pinggir jalan raya Surabaya–Cepu.

Penduduk di desa ini mayoritas bekerja sebagai pedagang. Ada yang berdagang kain di pasar, serta menjual tempe, tahu, kerupuk, dan komoditas lainnya. Selain pedagang, sebagian warga lainnya berprofesi sebagai guru dan pekerjaan formal lain.

Pada masa pemilu hanya diikuti oleh tiga partai, yaitu PPP, PDI, dan Golkar, PPP selalu menang di desa saya. Saat itu, Golkar sering dipelesetkan penduduk menjadi Golongan Kafir Quraisy, sedangkan PDI dianggap sebagai partai non-Islam.

Masyarakat di desa saya hampir seratus persen memeluk agama Islam. Hanya ada seorang warga non-Muslim bernama Pak Yunus yang berprofesi sebagai dokter, yang kelak anak-anaknya banyak yang memeluk Islam.

Warga di desa secara kultural terbelah menjadi dua organisasi, yaitu Muhammadiyah dan NU. Beberapa mushola merupakan milik warga NU, sedangkan satu-satunya masjid di desa dikelola oleh Muhammadiyah.

Meskipun berbeda mazhab, warga desa tidak pernah terlibat benturan fisik. Mereka biasanya hanya beradu argumen mengenai beberapa amalan ibadah, seperti masalah qunut, tahlilan, dan sebagainya.

Foto orang tua penulis: Bapak Dachli bin Hasyim (alm) dan Ibu Tamlikah.

Bapak saya bernama Dachli bin Hasyim. Beliau lahir di Madiun pada 9 Juli 1940 dan wafat pada 18 Januari 2004.

Bapak menunaikan ibadah haji sekitar 1980. Bapak bukanlah seorang intelektual ternama, melainkan hanya seorang guru. Beliau mengajar di SDN Purwosari, Bojonegoro, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumah.

Berkat prestasinya yang baik, Bapak akhirnya diangkat menjadi Kepala Sekolah dan kemudian menjadi penilik sekolah dasar.

Bapak adalah sosok yang pendiam. Beliau lebih banyak berpikir daripada berbicara.

Bila ada tamu yang berkunjung ke rumah, biasanya Ibu yang lebih banyak berbicara. Ibu bekerja sebagai penjual kain di Pasar Tobo, Purwosari. Di pasar, Ibu memang senang berbicara dan berkumpul dengan sesama pedagang.

Bapak dididik oleh ayahnya (kakek kami) dengan paham Muhammadiyah atau Masyumi. Bapak pernah bercerita bahwa saat masih kecil, beliau sempat ikut dalam kampanye Masyumi di Madiun.

1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button