NASIONAL

Dua Bendera, Satu Persaudaraan: Ketika Indonesia dan Malaysia Bertemu di Halaman Birrul Waalidain Bogor

Bogor (Suaraislam.id) – Pagi ini, halaman Sekolah Islam Terpadu Birrul Waalidain I Bogor dipenuhi warna merah putih dan jalur gemilang. Di tangan para pelajar, dua bendera berkibar berdampingan. Tidak ada sekat, tidak ada rivalitas. Yang hadir justru sebuah pesan sederhana namun kuat: persaudaraan serumpun harus dirawat melalui pendidikan.

Suasana itulah yang menyambut kedatangan dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran dari tiga perguruan tinggi Malaysia—Universiti Sains Malaysia, Universiti Antarbangsa, dan German Malaysian Institute—dalam program iBridge Indonesia 2026, Senin (24/8/2026).

Sebelum hadroh dan tari saman menggema, seluruh tamu dan pelajar berdiri tegak menyanyikan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Malaysia. Dua lagu kebangsaan dilantunkan dalam satu halaman sekolah, menghadirkan nuansa kebangsaan sekaligus persaudaraan yang hangat.

Ketua Yayasan Perguruan Birrul Waalidain, Memed Jalaludin, mengatakan penyambutan yang meriah bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan kepada tamu sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya,” ujarnya.

Ia menyampaikan rasa syukur atas kunjungan rombongan dari Malaysia dan berharap hubungan tersebut tidak berhenti di Birrul Waalidain I saja. Memed bahkan mengundang seluruh peserta untuk berkunjung ke Birrul Waalidain II di kawasan Gunung Bunder, menikmati suasana alam sambil mempererat silaturahmi.

Bagi Memed, pendidikan bukan hanya membangun kecerdasan, tetapi juga membangun jembatan antarmanusia dan antarbangsa.

Pimpinan rombongan, Farid Wajdi, mengaku terkesan dengan atmosfer yang ia rasakan sejak memasuki lingkungan sekolah. Motivator yang juga memimpin Pondok Pesantren Mundzirul Qaum Bogor itu menyebut Birrul Waalidain sebagai salah satu sekolah yang paling hidup dan penuh semangat.

“Sepanjang saya menjadi motivator, Birrul Waalidain adalah sekolah yang paling bahagia dan semarak,” tuturnya.

Ia berharap para pelajar Birrul Waalidain tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga menjadi calon pemimpin umat di masa depan. Menurutnya, kerja sama pendidikan Indonesia–Malaysia merupakan investasi besar untuk melahirkan pemimpin yang berpikir lintas batas namun tetap berakar pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan.

Kunjungan mahasiswa kedokteran dari tiga kampus Malaysia tidak sekadar menjadi ajang pertukaran budaya. Mereka datang membawa misi pengabdian kepada masyarakat melalui penyuluhan kesehatan dan pemberian motivasi kepada para siswa.

Koordinator Program iBridge Indonesia 2026, Muhammad Hanif, menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Birrul Waalidain yang telah membuka ruang kolaborasi tersebut.

“Terima kasih kepada pimpinan Birrul Waalidain atas kesempatan kepada kami untuk membersamai anak-anak dalam pembelajaran,” katanya.

Program ini diharapkan menjadi awal kerja sama berkelanjutan yang mempertemukan dunia pendidikan, kesehatan, dan pembinaan karakter antara Indonesia dan Malaysia.

1 2Laman berikutnya
Back to top button