Calon Jamaah Haji Wajib Waspadai Pneumonia Pneumokokus
JAKARTA (Suaraislam.id) — Persiapan ibadah haji maupun umrah tidak hanya sebatas kesiapan finansial, fisik, dan logistik spiritual semata. Faktor ketahanan fisik dan kesehatan paru-paru kini menjadi poin krusial yang memerlukan perhatian ekstra dari para calon jamaah.
Pentingnya kesadaran akan kesehatan pernapasan ini terungkap dalam Media Roundtable Pfizer Indonesia bertajuk “Lindungi Napasmu, Jaga Momen Berarti” di Fairmont Hotel, Jakarta, Kamis (24/09/2026).
Kesiapan fisik yang matang akan menunjang kekhusyukan jamaah selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci. Kementerian Haji dan Umrah RI menyebut kesiapan fisik yang prima ini sebagai syarat istitha’ah kesehatan haji.
Persiapan Haji
Bagi jutaan keluarga di Indonesia, momen yang paling berarti dan dinantikan adalah perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Berdasarkan data survei yang dilakukan YouGov, di antara responden Muslim, sebanyak 43% berencana menunaikan ibadah haji atau umrah dalam dua tahun ke depan.
Masyarakat yang pernah atau berencana berangkat umumnya telah mengantisipasi tantangan cuaca panas (69%) serta risiko dehidrasi (65%). Selain itu, sekitar 57% responden juga mengantisipasi adanya risiko penyakit pernapasan selama beribadah.
Namun, sebagian besar calon jamaah belum menyadari bahwa infeksi saluran napas yang tertular di tengah kerumunan jutaan orang dapat berkembang menjadi ancaman penyakit yang lebih berat. Evaluasi Kementerian Kesehatan terhadap pelaksanaan haji 2025 menunjukkan bahwa infeksi saluran pernapasan merupakan keluhan paling umum di antara jamaah Indonesia.
Pneumonia bahkan menjadi penyebab utama rawat inap jamaah haji di Tanah Suci. Situasi ini diperberat dengan data bahwa lebih dari delapan dari sepuluh jamaah diketahui menyandang setidaknya satu penyakit kronis, seperti hipertensi atau diabetes.
Terkait persiapan perjalanan ibadah ini, dr. Joyce Bratanata, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam, Penyakit Tropik dan Infeksi, memberikan pandangannya. Ia menekankan pentingnya antisipasi sejak dini sebelum keberangkatan.
“Haji dan umrah mempertemukan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia, dalam cuaca panas, ruang yang padat dan sering kali dengan waktu istirahat yang sangat terbatas. Itulah situasi di mana batuk yang awalnya ringan bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih serius, terutama bagi jemaah lanjut usia atau jemaah penderita diabetes maupun penyakit jantung,” ujar dokter Joyce.
“Jemaah Indonesia sudah mempersiapkan perjalanan ini dengan sangat teliti, mulai dari menabung, menjaga kebugaran, hingga barang bawaan. Saya hanya ingin meminta para keluarga menambahkan satu hal lagi ke dalam persiapan tersebut: berkonsultasi dengan dokter, jauh sebelum keberangkatan, mengenai kesehatan paru mereka dan pentingnya bagi perjalanan tersebut,” lanjutnya.
Dokter Keluarga dari Klinik Kimia Farma, dr. Meidi Nursasih, juga membagikan pengalamannya saat berhadapan langsung dengan para calon jamaah. Ia menyoroti pola pikir masyarakat yang masih sering mengabaikan kesehatan paru-paru.
“Di pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan, saya bertemu jemaah yang sudah menunggu bertahun-tahun untuk perjalanan ini, dan yang sudah hidup dengan hipertensi atau diabetes hampir selama itu juga. Mereka bertanya kepada saya tentang cuaca panas dan tentang stamina. Hampir tidak ada yang bertanya tentang paru-paru mereka,” ungkapnya.
“Saya ingin mengubah cara berpikir itu, di kalangan jemaah maupun di kalangan rekan sejawat saya sendiri. Angkat pembicaraan ini dua atau tiga bulan sebelum keberangkatan, bukan di ruang tunggu bandara, karena saat itulah masih ada waktu untuk mengendalikan kondisi kesehatan dan membicarakan dengan tepat perlindungan apa yang sesuai untuk orang tersebut” ungkap dokter Meidi.