#Bebaskan PalestinaRESONANSI

Di Gaza, Kami Bahkan Tak Bisa Mulai Pulih dari Trauma

Oleh: Said Alsaloul, Penulis Palestina berbasis di Gaza.

Sudah tiga tahun horor genosida ini berlangsung di Gaza. Tiga tahun yang dipenuhi kematian, kehancuran, keputusasaan, dan kehampaan masa depan.

Lebih dari 74.000 jiwa telah terbunuh, termasuk lebih dari 1.400 orang yang gugur sejak apa yang disebut sebagai “gencatan senjata” berlaku pada Oktober tahun lalu. Tak terhitung pula warga yang meninggal akibat ketiadaan layanan kesehatan yang sebenarnya dapat dicegah.

Kami yang tersisa hidup dalam trauma permanen — sebuah trauma yang mustahil kami sembuhkan karena pembantaian ini tak pernah benar-benar berhenti.

Skala kerusakan psikologis yang terjadi amat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Lembaga-lembaga internasional mulai menggunakan angka-angka statistik untuk menarik perhatian dunia terhadap “krisis kesehatan mental” ini.

Analisis dari United Nations Population Fund menyimpulkan bahwa lebih dari satu juta anak di Gaza membutuhkan dukungan psikososial, dan 96 persen di antara mereka merasa bahwa kematian sudah amat dekat.

Di kalangan remaja dan pemuda, sekitar 61 persen menderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), 38 persen mengalami depresi, dan 41 percent tersiksa oleh kecemasan parah (anxiety).

Sebuah studi mengestimasi bahwa sekitar 88 persen orang dewasa di Gaza mengidap PTSD.

Mereka adalah anak-anak dan orang dewasa yang sebelumnya telah berulang kali mengalami trauma akibat perang demi perang. Pada tahun 2020 — setelah melewati beberapa perang yang berlangsung berbulan-bulan — separuh dari anak-anak Gaza sudah menunjukkan gejala PTSD. Pada 2022, sebanyak 71 persen orang dewasa menderita depresi.

Namun, angka-angka ini tidak pernah sanggup menjelaskan bagaimana rasanya hidup bersama trauma ketika harapan untuk pulih bahkan tidak pernah terlihat di ufuk barat.

Kami memang telah mengenal perang sebelumnya, tetapi bukan perang pembantaian rasial (genocidal war) yang total seperti ini.

Tidak ada yang mampu mempersiapkan mental kami untuk menghadapinya. Tidak saat kami harus berlari meninggalkan rumah tatkala tentara Israel menginvasi pada 2008. Tidak pula saat kami berlindung ketika bombardir Israel meratakan pemukiman pada 2012, 2014, dan 2021.

Perang yang total dan tanpa akhir memiliki watak yang berbeda. Perang jenis ini meremukkan jiwa; ia menghancurkan manusia karena memadamkan seluruh asa untuk bertahan hidup.

Saya pernah membacanya dalam buku-buku sastra. Karya Ernest Hemingway, A Farewell to Arms, terlintas di pikiran saya.

Saya ingat deskripsi detail tentang dentuman meriam dan tembakan senjata, tubuh-tubuh yang hancur, mayat-mayat yang diusung di atas tandu, serta para dokter yang berlumuran darah layaknya “jagal”.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button