Bangkit dari Reruntuhan Genosida, Komunitas Olahraga Gaza Kembali Gelar Turnamen
KOTA GAZA (Suaraislam.id)-Atlet amputasi membutuhkan prostetik, rehabilitasi, dan peralatan olahraga untuk kembali berkompetisi, kata Mustafa Siam. Olahraga dipandang sebagai alat untuk membantu pemuda Gaza pulih secara psikologis dan sosial setelah tiga tahun genosida.
Setelah tiga tahun perang yang menewaskan lebih dari 1.000 atlet dan menghancurkan ratusan fasilitas olahraga, komunitas olahraga Gaza berupaya menghidupkan kembali olahraga.
Sekretaris Jenderal Federasi Media Olahraga Palestina, Mustafa Siam, mengatakan kepada Anadolu bahwa kembalinya olahraga ke Gaza bukan hanya tentang melanjutkan kompetisi. Hal ini juga tentang membantu anak-anak dan pemuda pulih secara psikologis dan sosial setelah tiga tahun genosida.
“Olahraga Palestina telah mengalami kehancuran luas sejak Oktober 2023. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 265 fasilitas olahraga telah hancur total atau sebagian,” kata Siam.
Ia mengatakan 1.014 tokoh olahraga Palestina tewas selama perang. Jumlah tersebut termasuk para pemain, wasit, pelatih, dan administrator yang berafiliasi dengan Asosiasi Sepak Bola Palestina.
Di antara tokoh paling terkenal adalah pemain internasional Suleiman Obeid yang tewas oleh tembakan Israel saat berusaha mendapatkan makanan. Selain itu, ada Hani al-Masdar, pelatih tim Olimpiade, yang tewas dalam serangan Israel.
Berupaya Menghidupkan Kembali Olahraga
Setelah kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025, Asosiasi Sepak Bola Palestina mengadakan pertemuan dengan klub-klub di Gaza. Pertemuan ini bertujuan untuk menyusun rencana pemulihan aktivitas olahraga, kata Siam.
Sejak saat itu, asosiasi telah menyelenggarakan empat turnamen untuk pemain senior dan yunior. Mereka juga menggelar sebuah turnamen sepak bola pantai.
Siam mengatakan tujuan utama turnamen tersebut adalah untuk mengembalikan harapan dan menghidupkan kembali semangat. Hal ini ditujukan bagi kaum muda dan atlet yang hidup dalam kondisi sulit.
“Para pemuda ini tinggal di kamp pengungsian yang kumuh. Banyak dari mereka telah kehilangan keluarga, rumah, teman, atau pelatih,” ungkapnya.
Siam menyatakan bahwa turnamen tersebut juga membawa pesan kepada dunia. Pesan itu menegaskan bahwa pemuda Palestina memiliki hak untuk bermain sepak bola dan olahraga lainnya, sama seperti atlet di seluruh dunia.
Ia mengatakan Asosiasi Sepak Bola Palestina mengadopsi sebuah inisiatif pada bulan Mei 2024. Inisiatif tersebut bertujuan mendirikan pusat Phoenix Cubs bagi anak-anak pengungsi di kamp-kamp.
Pusat pelatihan ini saat ini beroperasi di Kota Gaza dan wilayah kegubernuran tengah. “Olahraga penting untuk memperkuat kesejahteraan psikologis dan sosial anak-anak yang telah hidup melalui keadaan sulit selama bertahun-tahun perang,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa sepak bola juga dapat membantu menjaga dan mengembangkan bakat muda. Sebab, olahraga merupakan bagian dari pendidikan dan perkembangan sosial.






