#Bebaskan PalestinaINTERNASIONAL

Tolak Israel, Ratusan Ribu Orang Ikuti Protes ‘Garis Merah’ di Amsterdam

Amsterdam (Suaraislam.id)— Lebih dari 200.000 orang turun ke jalan-jalan di Amsterdam, Belanda. Mereka menuntut tindakan pemerintah terhadap perang genosida Israel di Gaza, menurut Amnesty International cabang Belanda selaku salah satu penyelenggara.

Para demonstran ‘Garis Merah’ pada Ahad (8/11), yang banyak di antaranya mengenakan pakaian berwarna merah, menyerukan pembatasan perdagangan yang lebih ketat terhadap Israel serta penghentian seluruh penjualan senjata.

“Apa yang terjadi di sana sungguh tidak manusiawi,” kata Mike van Dongen saat berjalan di tengah kerumunan besar tersebut.

“Sejauh yang saya tahu, [otoritas Belanda] tidak melakukan apa pun,” ujarnya. “Mereka tidak berani mengambil langkah serius.”

Saat para demonstran berbaris di sepanjang jalan Amsterdam yang biasanya padat—yang ditutup untuk lalu lintas pada Ahad—seorang pria berdiri di halte bus membawa pengeras suara sembari berseru, “Free, free Palestine!” Banyak peserta pawai menyuarakan kembali seruan tersebut saat melintas.

Setidaknya 74.000 Jiwa Meninggal di Gaza

Perang genosida Israel telah menewaskan sedikitnya 74.000 warga Palestina, termasuk 21.000 anak-anak, sejak Oktober 2023.

Protes pada Ahad tersebut serupa dengan unjuk rasa pada awal Oktober tahun lalu. Aksi ini melanjutkan demonstrasi ‘Garis Merah’ pada Juni lalu ketika para demonstran berbaris di jalan-jalan Den Haag.

“Gencatan senjata” memang telah berlaku di Gaza sejak 10 Oktober tahun lalu, tetapi serangan dan pembunuhan oleh Israel terus berlanjut hampir setiap hari sejak saat itu.

Perang di Gaza telah meregangkan hubungan antara Belanda dan Israel. Menteri Luar Negeri Belanda mengundurkan diri tahun lalu setelah gagal menyepakati sanksi baru terhadap Israel.

Sejak saat itu, pemerintahan koalisi minoritas baru yang mulai menjabat pada Februari memberlakukan larangan impor produk-produk dari permukiman ilegal Israel. Permukiman tersebut dianggap ilegal oleh pemerintah Belanda dan sebagian besar masyarakat internasional, sehingga larangan ini memicu perselisihan diplomatik dengan Israel.

Perdana Menteri Rob Jetten, yang ikut serta dalam pawai tahun lalu tetapi tidak hadir pada Ahad, membela tindakan pemerintahnya dalam konferensi pers mingguan pada Jumat.

“Setiap hari dan setiap minggu, kami melakukan apa yang kami bisa untuk meringankan situasi mengerikan di sana,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pemerintahannya “menerapkan tekanan politik dan diplomatik yang lebih besar” terhadap Israel agar mematuhi kesepakatannya mengenai Gaza.[]

Sumber: Aljazeera.com

Back to top button