Dengan atau tanpa Hamas
Nasib Hamas tidak akan secara mendalam membentuk masa depan Gaza.
Oleh: Lorenzo Kamel (Profesor Sejarah di Universitas Turin dan Luiss School of Government, Roma)
Saat kita memasuki tahun keempat perang yang telah menghancurkan Gaza secara hampir menyeluruh, desakan agar Hamas menyerahkan kewenangan administratif dan mengosongkan Jalur Gaza semakin meningkat. Agar Gaza memiliki masa depan yang layak, sayap politik dan militer kelompok tersebut dinilai harus dibubarkan.
Meskipun nasib Hamas merupakan pertanyaan penting, merancang jalan pemulihan yang bermakna adalah hal yang mustahil tanpa mengatasi realitas yang melatarbelakangi kemunculannya sejak awal.
Apa yang terjadi hari ini di Gaza berkaitan langsung dengan asal-usul persoalan Palestina-Israel. Masalah ini memiliki sedikit hubungan dengan keberadaan kelompok bersenjata tertentu.
Hamas belum ada pada tahun 1948 ketika ratusan desa Palestina, termasuk Naj dan Huj, dikosongkan dan dihancurkan selama Nakba—bencana Palestina yang menyertai pembentukan Negara Israel—untuk memberi jalan bagi pembangunan Sderot, Or HaNer, dan berbagai kota serta desa Israel lainnya di atas reruntuhan tersebut.
Kelompok tersebut juga belum berdiri pada tahun 1967 ketika Perang Arab-Israel meletus dan Israel memulai pendudukan militernya di Jalur Gaza dan Tepi Barat, serta menganeksasi Yerusalem Timur secara sepihak. Tindakan tersebut secara aktif menyiapkan panggung bagi proyek permukiman Israel yang lebih luas.
Pada dekade-dekade berikutnya, pendudukan tersebut sangat memengaruhi masyarakat Palestina. Kondisi itu berkombinasi dengan meningkatnya pengaruh keagamaan—terlihat dari jumlah masjid lokal yang melonjak tiga kali lipat dari 200 menjadi 600 antara tahun 1967 dan 1987—serta kekosongan yang ditinggalkan oleh kepemimpinan nasionalis sekuler yang memudar.
Kondisi tersebut mempersiapkan tanah bagi bangkitnya faksi-faksi nasionalis berbasis agama. Letusan Intifada Pertama pada tahun 1987 menjadi titik balik politik yang secara langsung memicu pembentukan Hamas.
Kelompok ini didirikan oleh sekelompok pria Palestina, termasuk tiga tokoh terkemuka. Ibrahim al-Yazouri lahir di Bait Daras, dekat Ashdod saat ini, dan baru berusia delapan tahun ketika prajurit Haganah membunuh anggota keluarganya serta mengusir korban yang selamat ke Khan Younis, sebelah selatan Kota Gaza.
Pendiri lainnya, Abdulaziz al-Rantisi, lahir di Yibna—sebuah desa di dekat Jaffa yang reruntuhannya kini berada di bawah kota Yavne di Israel. Ia baru berusia satu tahun ketika pasukan Israel mengusir keluarganya ke Khan Younis.
Terakhir, Ahmed Yassin lahir di al-Jura, sebuah desa di dekat Ashkelon yang diratakan dengan tanah oleh militer Israel. Ia berusia 12 tahun ketika ia dan keluarganya harus melarikan diri dari rumah mereka dan menetap di kamp pengungsian al-Shati di pesisir Gaza.
Menyoroti sejarah ini tidak boleh disalahartikan sebagai upaya untuk memperkecil tanggung jawab Hamas. Namun, tindakan kelompok tersebut tidak dapat dipisahkan dari konteks historis dan peran yang dimainkan Negara Israel sepanjang proses ini.
Berbeda dengan ISIS dan kelompok-kelompok lain yang muncul dalam beberapa tahun terakhir—yang tidak memiliki akar kuat dalam masyarakat lokal serta mengandalkan ideologi usang—faksi-faksi Palestina sangat terikat dengan masyarakat lokal dan identitas nasional.
Meskipun perjalanan Hamas ditandai oleh beberapa keputusan yang fatal—terutama keputusannya meluncurkan serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023—kelompok tersebut pada hakikatnya tetap merupakan gejala dari penderitaan, penindasan, dan perjuangan menentukan nasib sendiri selama satu abad.






