Menanamkan Toleransi pada Murid MI Melalui Sejarah Kebudayaan Islam
Oleh: Dwi Alamatul Kurnia (Mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
Di sebuah kelas empat madrasah ibtidaiyah, seorang murid enggan duduk sebangku dengan temannya. Penolakan tersebut muncul hanya karena sang teman berbeda keyakinan, berbeda logat, atau berasal dari kampung yang dianggap berbeda.
Peristiwa kecil ini sering kali dianggap sepele oleh banyak pihak. Padahal, dari sinilah benih sikap intoleran biasanya mulai tumbuh dan mengakar.
Anak-anak hari ini hidup di tengah derasnya arus informasi digital. Sayangnya, tidak semua informasi yang sampai ke gawai mereka mengajarkan cara menghargai perbedaan.
Oleh karena itu, sekolah dan madrasah tidak bisa hanya mengandalkan nasihat sesekali. Lembaga pendidikan membutuhkan pendekatan pembelajaran yang mampu menyentuh nalar sekaligus hati anak.
Dalam kurikulum madrasah, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) hadir bersama Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, dan Fikih sebagai bagian dari rumpun Pendidikan Agama Islam.
Jika diajarkan secara tepat, SKI bukan sekadar pelajaran tentang masa lalu. Pelajaran ini menjadi cermin bagi anak untuk belajar bagaimana Islam dihayati secara nyata dalam kehidupan yang beragam.
Mengapa Toleransi Harus Ditanamkan Sejak Dini?
Usia sekolah dasar merupakan fase krusial saat anak membentuk kebiasaan dan cara pandang dasar terhadap orang lain. Pada rentang usia ini, anak belajar paling efektif melalui hal-hal konkret seperti cerita, contoh, dan pengalaman langsung.
Anak belum mudah memahami konsep abstrak, tetapi sangat cepat meniru perilaku orang dewasa. Mereka juga mudah menyerap pesan moral dari kisah yang menyentuh perasaan.
Oleh sebab itu, pendidikan karakter pada jenjang ini harus bertumpu pada teladan dan pembiasaan, bukan ceramah panjang.
Thomas Lickona dalam bukunya, Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility, menjelaskan bahwa pendidikan karakter yang utuh mencakup tiga unsur yang saling terkait. Ketiga unsur tersebut adalah mengetahui kebaikan (moral knowing), merasakan kebaikan (moral feeling), dan melakukan kebaikan (moral action).
Toleransi tidak cukup hanya diketahui sebatas definisi. Anak perlu merasakan bagaimana rasanya dihargai, lalu terbiasa bersikap menghargai orang lain.
Di titik inilah SKI memiliki keunggulan strategis. Kisah-kisah sejarah di dalamnya dapat menjadi pintu masuk menuju ketiga unsur pendidikan karakter tersebut.
Kebutuhan ini juga sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Selain itu, Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter menempatkan nilai nasionalisme, gotong royong, dan integritas sebagai arus utama. Toleransi merupakan napas utama yang menghubungkan seluruh nilai tersebut.
Teladan Toleransi dalam Lembaran Sejarah Islam
Sejarah Islam menyimpan banyak peristiwa mulia yang dapat diceritakan kepada anak menggunakan bahasa sederhana. Peristiwa paling terang adalah penyusunan Piagam Madinah.
Setelah hijrah pada tahun 622 M, Nabi Muhammad saw. mendapati Madinah dihuni oleh kelompok yang sangat beragam. Masyarakatnya terdiri dari kaum Muslimin (Muhajirin dan Anshar), suku-suku Arab, serta komunitas Yahudi.
Rasulullah saw. kemudian menyusun kesepakatan tertulis yang mengatur hak dan kewajiban semua pihak. Kesepakatan tersebut mencakup jaminan kebebasan menjalankan keyakinan masing-masing dan kewajiban bersama menjaga keamanan kota.
Bagi anak-anak, pesan moral dari peristiwa ini sangat jelas: rumah bersama akan aman jika setiap penghuninya saling menjaga.
Contoh teladan lainnya adalah peristiwa Fathu Makkah pada tahun 630 M. Ketika kaum Muslimin berhasil memasuki Makkah—kota yang dahulu mengusir dan menyakiti mereka—Rasulullah saw. justru memilih memberikan pengampunan massal dan menjaga keselamatan seluruh penduduk.
Kisah ini mengajarkan bahwa kekuatan yang paling mulia adalah kemampuan untuk memaafkan. Guru dapat mengaitkan kisah ini dengan pengalaman sehari-hari siswa, seperti saat memaafkan teman yang merusakkan barang atau ketika terjadi perselisihan kecil di lapangan bermain.
Catatan sirah juga merekam momen ketika rombongan Nasrani dari Najran diterima oleh Nabi Muhammad saw. di Madinah dan diberi ruang untuk beribadah sesuai cara mereka.
Pada masa Kepemimpinan Umar bin Khattab, pembebasan Yerusalem pada tahun 637 M diwarnai dengan perjanjian jaminan keselamatan jiwa, harta, dan tempat ibadah penduduk setempat. Dalam kurun sejarah yang lebih panjang, Kota Cordoba di Andalusia juga dikenal sebagai pusat peradaban yang mempertemukan para cendekiawan dari berbagai latar belakang agama.
Tentu, sejarah juga memiliki sisi dinamika yang kompleks. Namun, untuk tingkat SD/MI, guru dapat memilih episode-episode yang paling relevan dengan tahap perkembangan anak dan menyajikannya secara jujur tanpa rekayasa.
Seluruh teladan sejarah tersebut berakar kuat pada ajaran Al-Qur’an. Allah Swt. menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama:
لَآ إِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (Q.S. Al-Baqarah: 256)
Islam juga secara tegas mengakui perbedaan keyakinan melalui firman-Nya:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Q.S. Al-Kafirun: 6)
Selain itu, Allah Swt. mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوْا
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)
Allah Swt. juga tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa pun yang tidak memusuhi mereka karena agama:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S. Al-Mumtahanah: 8)
Dengan demikian, nilai toleransi yang diajarkan melalui SKI bukanlah gagasan asing yang disisipkan dari luar. Nilai tersebut merupakan bagian inti dari ajaran Islam itu sendiri.
Strategi Mengubah Kisah Menjadi Sikap di Kelas
Tantangan utamanya adalah bagaimana mengubah kisah-kisah sejarah tersebut menjadi sikap hidup sehari-hari.
Pertama, guru perlu menjadi pendongeng yang ulung. Kisah Piagam Madinah hendaknya dituturkan menggunakan bahasa anak yang komunikatif, lengkap dengan penyampaian karakter dan suasana, bukan sekadar membacakan deretan angka dan tanggal dari buku teks.
Kedua, kisah sejarah harus dihubungkan dengan pengalaman nyata siswa.
Setelah bercerita, guru dapat melontarkan pertanyaan pemantik seperti, “Jika ada teman baru yang berbeda dari kita, apa yang bisa kita lakukan agar ia merasa nyaman?” Diskusi interaktif ini melatih anak menyampaikan gagasan sekaligus mendengarkan pandangan orang lain.
Ketiga, proses pembelajaran harus dirancang secara aktif. Anak-anak dapat diajak bermain peran (role playing) sebagai warga Madinah, menyusun “piagam kesepakatan kelas” untuk saling menghormati, atau menggambar kota impian yang rukun.
Keempat, guru wajib memberikan keteladanan secara langsung (modelling). Anak-anak tidak hanya mendengarkan perkataan guru, tetapi juga mengamati bagaimana gurunya memperlakukan siswa yang pendiam, lambat belajar, atau berasal dari latar belakang berbeda.
Kelima, pembelajaran SKI dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran Akidah Akhlak. Jika SKI menyediakan kisah keteladanan, Akidah Akhlak memberikan landasan keimanan dan nilai-nilai seperti sifat pemaaf, sabar, dan adil.
Tantangan dan Harapan
Upaya ini tentu menghadapi berbagai tantangan nyata di lapangan. Guru sering terbentur oleh keterbatasan waktu mengajar, materi buku ajar yang padat, serta pengaruh lingkungan rumah dan media sosial yang kurang mendukung.
Selain itu, masih ada kekhawatiran keliru bahwa toleransi dapat mengaburkan atau mencampuradukkan keyakinan. Kekhawatiran ini harus dijawab secara jernih dan tegas.
Toleransi dalam Islam tidak berarti membenarkan atau menyamakan semua akidah, melainkan menghormati hak orang lain untuk berkeyakinan sambil tetap teguh pada iktikad sendiri. Justru anak yang memiliki pemahaman akidah yang kokoh akan tampil lebih tenang dan percaya diri saat bergaul dengan siapa saja.
Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi yang erat dari berbagai pihak. Guru dituntut terus berinovasi dalam metode mengajar, madrasah wajib menciptakan iklim sekolah yang ramah, dan orang tua perlu melanjutkan pembiasaan positif tersebut di rumah.
Sejarah Kebudayaan Islam pada hakikatnya adalah himpunan teladan hidup. Dari Piagam Madinah hingga Fathu Makkah, kita belajar bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi semesta alam (raḥmatan lil-‘ālamīn).
Tugas mulia pendidik di MI adalah menjembatani nilai-nilai keteladanan tersebut agar meresap ke dalam sanubari anak-anak. Ketika seorang murid belajar memberikan ruang bagi temannya yang berbeda, ia sedang menyiapkan dirinya menjadi warga negara yang merekatkan kerukunan bangsa pada masa depan.[]






