SEHAT-BUGAR

Pijat dalam Pandangan Islam: Ikhtiar Merawat Amanah Tubuh dengan Adab yang Terjaga

Di tengah ritme hidup yang serba cepat, banyak dari kita terbiasa memaksa tubuh bekerja melampaui batas. Berangkat sebelum matahari terbit, pulang setelah isya, lalu masih membuka laptop hingga larut malam. Pegal di punggung, leher yang kaku, dan tidur yang tidak nyenyak kerap dianggap hal biasa. Padahal, dalam pandangan Islam, mengabaikan keluhan tubuh bukanlah bentuk kesungguhan, melainkan kelalaian terhadap amanah.

Salah satu ikhtiar sederhana yang sudah dikenal turun-temurun di Nusantara untuk memulihkan tubuh adalah pijat. Dari nenek yang memijat cucunya hingga tukang urut langganan di kampung, pijat telah lama menjadi bagian dari budaya merawat diri. Lalu, bagaimana Islam memandang pijat, dan adab apa saja yang perlu dijaga agar ikhtiar ini tetap bernilai ibadah?

Tubuh adalah Amanah, Bukan Milik Mutlak

Seorang Muslim meyakini bahwa seluruh yang ia miliki, termasuk tubuhnya sendiri, adalah titipan Allah Swt. Kelak, setiap anggota badan akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana ia digunakan dan dijaga. Karena itu, merawat kesehatan bukan sekadar urusan duniawi, tetapi bagian dari menunaikan amanah.

Rasulullah saw pernah menegur sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam tanpa jeda. Beliau bersabda, “Sesungguhnya badanmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Teguran ini menunjukkan bahwa semangat beribadah pun harus diimbangi dengan memberi tubuh haknya untuk beristirahat dan pulih.

Dalam hadits lain, Nabi saw mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering membuat manusia lalai, yaitu kesehatan dan waktu luang (HR. Bukhari). Banyak orang baru menyadari mahalnya kesehatan ketika tubuh sudah jatuh sakit. Menjaga tubuh sejak dini, termasuk dengan meredakan kelelahan sebelum menumpuk menjadi penyakit, adalah wujud syukur atas nikmat tersebut.

Pijat sebagai Bagian dari Ikhtiar Berobat

Islam tidak hanya membolehkan, tetapi juga menganjurkan umatnya untuk berobat. Rasulullah saw bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat mengenai penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain, beliau berpesan, “Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Para ulama menjelaskan bahwa hukum asal pengobatan dan perawatan tubuh adalah mubah, selama caranya tidak bertentangan dengan syariat. Pijat termasuk dalam kategori ini. Ia tidak mengandung unsur syirik, tidak menggunakan bahan yang haram, dan tujuannya jelas: meredakan nyeri, melancarkan peredaran darah, serta mengembalikan kebugaran.

Tradisi pengobatan dalam sejarah Islam pun akrab dengan terapi fisik. Bekam, yang dikenal sebagai salah satu pengobatan yang dianjurkan Nabi saw, menunjukkan bahwa perawatan tubuh dari luar memiliki tempat dalam khazanah thibbun nabawi. Para ilmuwan Muslim di masa keemasan peradaban Islam, seperti Ibnu Sina dalam karyanya Al-Qanun fi ath-Thibb, juga membahas pijat sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Di Indonesia sendiri, ragam teknik pijat tradisional seperti pijat Jawa dan pijat Bali telah diwariskan lintas generasi. Kearifan lokal ini sejalan dengan prinsip Islam selama praktiknya bersih dari unsur mistik dan jampi-jampi yang menyimpang dari tauhid.

Manfaat Pijat bagi Tubuh dan Pikiran

Secara umum, pijat dikenal membantu mengendurkan otot yang tegang, melancarkan sirkulasi darah, dan memberikan rasa rileks. Bagi pekerja kantoran yang duduk berjam-jam, pijat dapat membantu meredakan kaku di leher, bahu, dan punggung bawah. Bagi mereka yang aktif berolahraga, pijat membantu proses pemulihan otot setelah latihan.

Manfaatnya tidak berhenti pada fisik. Tubuh yang rileks biasanya diikuti pikiran yang lebih tenang. Banyak orang merasakan tidurnya lebih nyenyak setelah dipijat, dan tidur yang berkualitas sangat berpengaruh pada kesehatan secara keseluruhan.

Di sinilah pijat bertemu dengan nilai ibadah. Tubuh yang bugar memudahkan seseorang menegakkan shalat dengan khusyuk, bangun untuk tahajud, bekerja mencari nafkah yang halal, dan melayani keluarga dengan sepenuh hati. Rasulullah saw bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim). Kekuatan yang dimaksud memang mencakup kekuatan iman dan tekad, namun kesehatan fisik tentu menjadi penopang penting bagi semua itu.

Meski begitu, pijat bukan pengganti penanganan medis. Bagi yang memiliki kondisi tertentu, seperti sedang hamil, baru mengalami cedera, memiliki tekanan darah tinggi, atau penyakit kronis lainnya, sebaiknya berkonsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum menjalani pijat.

Adab Pijat yang Perlu Dijaga Seorang Muslim

Agar pijat tetap berada dalam koridor syariat dan bernilai pahala, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan.

Pertama, luruskan niat. Niatkan pijat sebagai ikhtiar menjaga amanah tubuh agar kuat beribadah dan beraktivitas. Dengan niat yang benar, aktivitas yang tampak duniawi pun bisa bernilai ibadah.

Kedua, pilih terapis sesama jenis. Inilah adab yang paling utama. Laki-laki sebaiknya dipijat oleh terapis laki-laki, dan perempuan oleh terapis perempuan. Sentuhan fisik antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram perlu dihindari, kecuali dalam kondisi darurat medis.

Ketiga, tetap menjaga aurat. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan janganlah seorang perempuan melihat aurat perempuan lain.” (HR. Muslim). Karena itu, meskipun terapisnya sesama jenis, bagian tubuh yang termasuk aurat tetap harus ditutup dengan kain atau handuk. Terapis yang profesional akan memahami dan menghormati batasan ini.

Keempat, pilih tempat yang aman dan terjaga. Hindari tempat-tempat yang tidak jelas reputasinya atau berpotensi menimbulkan fitnah. Dipijat di rumah sendiri, dengan keberadaan anggota keluarga, sering kali menjadi pilihan yang lebih menenangkan.

Kelima, perhatikan waktu. Jangan sampai sesi pijat membuat kita melalaikan shalat. Atur jadwal agar tidak bertepatan dengan waktu shalat, atau tunaikan shalat terlebih dahulu sebelum memulai.

Keenam, tidak berlebihan. Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam segala hal. Pijatlah secukupnya sesuai kebutuhan tubuh, bukan sebagai bentuk kemewahan atau pemborosan.

Ketujuh, iringi dengan doa. Kesembuhan datang dari Allah, bukan dari tangan terapis. Rasulullah saw mengajarkan, ketika merasakan sakit pada tubuh, letakkan tangan pada bagian yang sakit, ucapkan “Bismillah” tiga kali, lalu baca “A’udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru” tujuh kali (HR. Muslim). Doa ini bisa diamalkan sebelum atau selama sesi pijat, agar ikhtiar lahir disertai tawakal batin.

Pijat Panggilan, Pilihan Praktis bagi Keluarga Muslim

Salah satu kendala yang sering dihadapi masyarakat perkotaan adalah keterbatasan waktu. Untuk pergi ke tempat pijat, seseorang harus menembus kemacetan, mengantre, lalu pulang dalam keadaan lelah lagi. Belum lagi kekhawatiran soal tempat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini.

Karena itu, layanan pijat yang datang ke rumah kini menjadi alternatif yang banyak dipilih. Terapis datang membawa perlengkapan sendiri, sementara pelanggan cukup menyiapkan ruangan dan kasur. Sesi berlangsung di lingkungan yang dikenal dan nyaman, dengan anggota keluarga tetap berada di rumah.

Bagi warga Jakarta, Surabaya, dan sekitarnya, layanan seperti pijat panggilan 24 jam dari Hanum Massage dapat menjadi salah satu pilihan. Layanan ini menyediakan terapis laki-laki maupun perempuan yang bisa dipilih saat pemesanan, sehingga adab memilih terapis sesama jenis tetap dapat dijaga. Para terapisnya melalui proses seleksi dan verifikasi identitas, serta membawa handuk dan perlengkapan bersih untuk setiap sesi.

Apa pun layanan yang dipilih, sampaikan sejak awal preferensi terapis sesama jenis, jaga aurat selama sesi, dan sesuaikan jadwal dengan waktu shalat.

Penutup

Merawat tubuh adalah bagian dari syukur. Ketika badan terasa lelah dan otot mulai kaku, beristirahat dan memulihkan diri bukanlah tanda kemalasan, melainkan cara menunaikan hak tubuh sebagaimana diajarkan Rasulullah saw. Pijat, dengan niat yang lurus dan adab yang terjaga, dapat menjadi salah satu ikhtiar sederhana untuk itu.

Pada akhirnya, kesembuhan dan kesehatan sepenuhnya datang dari Allah Swt. Kita hanya diminta berikhtiar dengan cara yang halal dan baik. Semoga dengan tubuh yang sehat, kita semakin kuat dalam beribadah, bekerja, dan berkhidmat kepada keluarga serta umat. Wallahu a’lam bish-shawab.

Back to top button