‘Abu Ubaidah’ Tidak Meninggal!
Dari berita tentang Abu Ubaidah, kita mendapatkan nama dan panggilan yang benar-benar tidak ada hubungannya dengan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah murni sebuah nama jihad media Al Qassam. “Kami mewarisi dari Hudzaifah Al Kahlut panggilan: Abu Ubaidah,” kata jubir baru yang juga menggunakan nama yang sama: Abu Ubaidah.
Perisitiwa di depan mata kita ini semestinya membangunkan tidur panjang, kelesuan dan pergerakan sporadis tanpa kejelasan arah. Semestinya…
Pengumuman syahidnya para panglima tinggi di berbagai bidang memastikan bahwa pergerakan para mujahid bukan sebuah pergerakan asal-asalan. Tapi ia adalah kebenaran yang ada dalam desain rapi dalam satu komando.
Kerapian kerasahasiaan juga merupakan pukulan kasar di kepala kita yang selalu ingin menampilkan apa saja di medsos. Sampai syahidnya Abu Ubaidah kita tidak tahu siapa nama sebenarnya. Sampai syahidnya para panglima, baru kita tahu apa tugas mereka masing-masing.
Puncaknya tentang kaderisasi. Ya, kaderisasi adalah nyawa yang memastikan pergerakan ini tidak akan mati. Tapi masalahnya kaderisasi memang kerja berat, melelahkan dan jauh dari gebyar ketenaran. Tapi tanpanya, syahidnya Muhammad Dheif adalah kehancuran Al Qassam. Nyatanya, muncul Muhammad Sinwar dengan kualitas sama.
Kini walau kita tidak tahu siapa pengganti untuk tugas kepanglimaan para mujahid, kini pasti sudah yakin para panglima berikutnya dengan kualitas yang sama hebatnya telah disiapkan.
Apalagi Abu Ubaidah baru telah berjanji kepada Abu Ubaidah Al Kahlut: “Kami berjanji akan melanjutkan pergerakan ini!”
Derajat paling mulia, Surga paling tinggi, nama paling harum, pahala yang tak berhenti; untukmu para panglima kami.
Entah apa karya kami, yang pasti kami punya cinta tulus kepada kalian dengan harapan kalimat Rasul kita:
أنت مع من أحببت (Engkau bersama yang kau cintai) Termasuk tulisan ini: Ya Robb, jadikan ini saksi…
Pelataran Masjidil Haram, Mekah Al Mukarramah
Menara jam menunjukkan pukul 22.10
Budi Ashari



