#Ramadhan 1447 HOASE

“Atur Saja Hidupku, Ya Allah”

Namun mungkin, yang berubah bukanlah keadaan, melainkan cara memandangnya.

Harapan tidak selalu hadir dalam bentuk jawaban. Kadang ia hadir dalam bentuk ketenangan.

Dalam keyakinan bahwa apa pun yang terjadi setelah ini, ada tangan yang mengatur. Ada arah yang sedang disusun, meski belum terlihat jelas.

Dan keyakinan itu sering kali cukup untuk membuat seseorang tetap melangkah.

Sebuah Penutup yang Sederhana

Di ujung Ramadan, ketika malam-malam terakhir hampir berlalu, tidak semua orang membawa pulang kepastian. Tetapi banyak yang membawa sesuatu yang lain: kelegaan.

Kelegaan karena telah berusaha. Kelegaan karena telah berdoa. Dan mungkin yang paling penting, kelegaan karena telah belajar menyerahkan.

Kalimat itu kembali terucap, mungkin lebih pelan dari sebelumnya, tetapi dengan makna yang lebih dalam:

Atur saja hidupku ya, Allah, hamba manut.

Di tengah harapan akan Lailatul Qadar, kalimat itu bukan lagi sekadar doa. Ia adalah sikap. Sebuah cara memandang hidup setelah Ramadan usai—bahwa di antara usaha dan ketidakpastian, selalu ada ruang untuk percaya.

Dan dari situlah, hidup kembali berjalan.[]        

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2 3 4
BACA JUGA
Close
Back to top button