Piala Dunia 2026: Pesta Sepak Bola, Politisasi AS, dan Kontradiksi di Lapangan Hijau
Jakarta (Suaraislam.id) — Setelah Spanyol menyingkirkan favorit juara Prancis dan kemudian mengalahkan juara bertahan Argentina di partai final untuk merebut gelar Piala Dunia, ada satu orang yang berdiri di antara La Roja dan trofi emas yang mereka dambakan.
Saat kapten Spanyol, Rodri, memegang trofi paling bergengsi itu—sementara rekan-rekannya menunggu dan seluruh dunia menantikan momen ikonik ketika trofi diangkat ke udara—Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru tetap berdiri di tempatnya di atas panggung.
Akhirnya Presiden FIFA sekaligus sekutu dekat Trump, Gianni Infantino, harus memberi isyarat dan menggeser Trump agar memberi jalan kepada para juara dunia menikmati momen mereka.
Trump—yang sebelumnya memerintahkan penghentian perdagangan Amerika Serikat dengan Spanyol karena menganggap negara itu tidak memenuhi target belanja militernya serta menentang perang AS-Israel terhadap Iran—akhirnya menyingkir. Rodri pun mengangkat trofi Piala Dunia ketika hujan confetti emas memenuhi udara.
Itu menjadi penutup yang canggung bagi sebuah turnamen luar biasa yang menghadirkan hampir segala hal.
Jadi, Sebenarnya tentang Apakah Piala Dunia Kali Ini?
Turnamen ini memecah belah, tetapi juga merangkul keberagaman. Bagi sebagian penggemar, turnamen ini menjadi bukti keramahan Amerika Serikat sebagai tuan rumah. Kota Kansas City, misalnya, menyambut hangat para pendukung Aljazair, sementara Boston dengan gembira dipenuhi oleh lautan suporter Skotlandia.
Namun, bagi yang lain, turnamen ini justru mencerminkan sikap pemerintahan Trump yang dianggap tidak ramah terhadap dunia internasional. Hal itu tampak mulai dari penolakan visa, perlakuan terhadap tim Iran, hingga kontroversi karena wasit asal Somalia, Omar Artan, tidak diizinkan memasuki Amerika Serikat.
Bagi masyarakat Mesir, Piala Dunia mungkin akan selalu dikenang melalui keputusan-keputusan wasit yang kontroversial, yang menyebabkan mereka tersingkir secara dramatis dari Argentina pada babak 16 besar.
Sebaliknya, rakyat Argentina kemungkinan akan melihat turnamen ini sebagai bukti semangat pantang menyerah tim mereka, yang mampu melakukan sejumlah comeback luar biasa hingga mencapai final.
Sementara itu, Yordania, Irak, dan Haiti sudah merasa bersyukur hanya karena berhasil tampil di putaran final.
Piala Dunia ini juga menghadirkan banyak kisah kejutan dan “Cinderella”. Tanjung Verde tampil heroik, sedangkan Norwegia melaju jauh hingga babak perempat final.
Di sisi lain, turnamen ini juga menunjukkan dominasi tim-tim elite. Empat negara dengan peringkat FIFA tertinggi berhasil mencapai babak semifinal.






