#Bebaskan PalestinaOPINI

Bagaimana Hamas Memenangi Perang meski Kehilangan Segalanya?

Oleh: Anna Rahmanan (Penulis dan editor yang berbasis di New York)

Pada pagi hari tanggal 7 Oktober 2023, sejumlah pejuang bersenjata Hamas bergerak menyusuri Kibbutz Sufa, sebuah permukiman kolektif Israel yang berjarak kurang dari dua mil dari Gaza. Bernard Cowan (57), seorang kakek berkewarganegaraan ganda Inggris-Israel, keluar dari ruang aman keluarga karena mengidap klaustrofobia.

Salah seorang pejuang melihat Cowan sedang duduk di dalam rumah dan menembakkan dua peluru melalui jendela hingga Cowan roboh. Istrinya, Margaret, tetap bertahan di dalam ruang aman tersebut.

Kamera terus merekam aksi para pejuang saat bergerak menyusuri permukiman, menembaki rumah-rumah, dan merusak ban ambulans. Di rumah lain, kamera menangkap telepon yang masih berdering di atas meja dapur.

Cowan merupakan satu dari sekitar 1.200 orang yang tewas dalam serangan 7 Oktober di Israel. Angka tersebut memberikan dampak psikologis yang sangat mendalam bagi negara seukur Israel.

Jika Amerika Serikat mengalami serangan dengan proporsi korban yang setara terhadap jumlah penduduknya, angka kematian dapat mencapai sekitar 40.000 jiwa. Perbandingan ini menunjukkan skala trauma nasional yang memicu respons militer Israel secara ekstrem.

Sebagian besar penafsiran berfokus pada tujuan taktis Hamas, seperti menyandera warga Israel, membebaskan tahanan Palestina, memicu perang regional, atau menggagalkan normalisasi hubungan Israel-Arab Saudi.

Namun, Dov Waxman, pakar studi Israel di Universitas California, Los Angeles (UCLA), menilai bahwa Hamas memperhitungkan respons keras Israel untuk mengubah tatanan politik dunia.

“Hal yang meyakinkan saya akan kemungkinan ini adalah keputusan mereka merekam kekerasan menggunakan kamera GoPro lalu menyiarkannya,” kata Waxman.

Waxman membandingkan strategi tersebut dengan logika Osama bin Laden pada peristiwa 11 September 2001. Pihak yang secara militer lebih lemah memancing lawan yang lebih kuat agar bertindak berlebihan hingga mengubah peta politik internasional.

Tiga tahun pasca-kejadian, di situlah letak paradoks peristiwa 7 Oktober.

Hamas tidak menghancurkan negara Israel secara fisik. Sebagian besar pimpinan seniornya telah gugur, kemampuan militernya rusak parah, dan kawasan Gaza hancur lebur serta merenggut puluhan ribu nyawa warga sipil.

Namun, lanskap politik dunia telah berubah secara fundamental.

Isu perjuangan Palestina kembali menjadi pusat perhatian internasional, sementara reputasi Israel di mata masyarakat dunia merosot tajam. Di kalangan generasi muda Amerika Serikat, persepsi terhadap Palestina kini jauh lebih positif dibandingkan terhadap Israel.

Suatu hari nanti, generasi muda Amerika tersebut akan menduduki posisi-posisi kunci pemerintahan.

Hamas secara militer menderita kekalahan besar dalam pertempuran di lapangan. Namun, mereka berhasil memicu perubahan jangka panjang dalam cara dunia menilai Israel.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button