Bagaimana Hamas Memenangi Perang meski Kehilangan Segalanya?
Apa yang Sebenarnya Diinginkan Hamas?
Dunia terus memperdebatkan kalkulasi awal pimpinan Hamas saat melancarkan serangan pada 7 Oktober 2023.
Daniel Sobelman, profesor keamanan internasional dan diplomasi di Universitas Ibrani Yerusalem, menilai ambisi Hamas jauh lebih besar dari perkiraan umum. Berdasarkan dokumen yang ditemukan militer Israel, sasaran utamanya adalah runtuhnya struktur negara Israel.
Pimpinan Hamas sempat mengira posisi pertahanan Israel dapat runtuh secara cepat. Beberapa menit setelah operasi dimulai, Hamas meminta Hizbullah dan sekutu regionalnya untuk segera bergabung dalam pertempuran.
Selama beberapa jam pertama, pertahanan militer Israel sempat tertembus di berbagai titik perbatasan.
Gershon Baskin, aktivis perdamaian Israel yang rutin berkomunikasi dengan pejabat Hamas, menyebut pimpinan Hamas sendiri terkejut melihat minimnya penjagaan tentara Israel di garis depan.
“Seorang pimpinan Hamas bercerita bahwa mereka mengirim 1.500 pejuang dengan perkiraan 1.000 di antaranya akan gugur,” ungkap Baskin.
Hamas mengandalkan terbentuknya koalisi regional yang melibatkan Tepi Barat, Hizbullah, dan mobilisasi dunia Arab. Namun, skenario keruntuhan total Israel tersebut tidak terwujud.
Dalam kurun waktu setahun setelah serangan, sejumlah pimpinan kunci Hamas terbunuh, termasuk Saleh al-Arouri, Ismail Haniyeh, Mohammed Deif, dan Yahya Sinwar.
Di sisi lain, warga sipil Palestina menanggung penderitaan yang luar biasa berat.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sekitar 75.000 warga Palestina meninggal dunia. Laporan Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa pada Februari 2025 memperkirakan kerugian infrastruktur fisik mencapai hampir 30 miliar dolar AS.
Kerusakan bangunan yang parah terus memicu insiden susulan. Pada 16 September 2026, sebuah bangunan yang rusak di Kota Gaza runtuh dan menewaskan sedikitnya 21 orang.
Baskin mencatat bahwa para pejabat Hamas yang tersisa berada dalam kondisi bingung terkait arah organisasi ke depan. Meski demikian, belum ada pernyataan penyesalan atas keputusan operasi tersebut.
Tujuan utama Sinwar saat itu adalah mengamankan sandera demi membebaskan ribuan tahanan Palestina di penjara Israel, belajar dari pengalaman pertukaran tawanan Gilad Shalit pada tahun 2011.
Sementara itu, Shibley Telhami dari Universitas Maryland berpendapat bahwa sasaran utama serangan adalah mengguncang status quo pendudukan dan menghentikan proses normalisasi tanpa penyelesaian isu Palestina.
Pernyataan resmi Mohammed Deif saat mengumumkan Operasi Badai Al-Aqsa juga menegaskan perlindungan terhadap Masjid Al-Aqsa, penghentian eskalasi di Tepi Barat, dan pembebasan tahanan.






