Bagaimana Hamas Memenangi Perang meski Kehilangan Segalanya?
Pergeseran Persepsi Publik dan Soft Power Israel
Pada musim semi 2022, sebanyak 55 persen warga Amerika memandang Israel secara positif dan 42 persen memandang negatif. Pada Maret 2026, angka tersebut berbalik menjadi 37 persen pandangan positif dan 60 persen pandangan negatif.
Proporsi warga yang memiliki pandangan sangat negatif terhadap Israel melonjak dari 10 persen menjadi 28 persen.
Pergeseran ini berdampak langsung pada indeks pengaruh global Israel. Global Soft Power Index 2026 mencatat posisi Israel merosot ke peringkat 39, turun enam peringkat dalam satu tahun.
Indeks Nation Brands 2025 juga mencatat penurunan persepsi publik paling tajam bagi Israel dalam dua dekade terakhir.
David Makovsky dari Washington Institute for Near East Policy menilai penurunan ini bisa bersifat sementara akibat kebijakan keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
“Pemerintahan baru Israel di masa depan dapat mengubah pendekatan komunikasi diplomatiknya,” ujar Makovsky.
Namun, Dov Waxman menegaskan bahwa pandangan generasi muda Amerika dibentuk oleh informasi digital yang mereka saksikan setiap hari di media sosial selama tiga tahun terakhir.
Sikap ini diprediksi akan terbawa ketika mereka memegang kepemimpinan politik di masa depan.
Dukungan bipartisan terhadap Israel di panggung politik Amerika Serikat kini mulai terguncang dari dua arah spektrum politik (horseshoe politics).
Di sayap kiri progresif, penolakan berpusat pada krisis kemanusiaan di Gaza dan bantuan militer AS. Sementara di sayap kanan isolasionis (America First), timbul keprihatinan atas keterlibatan AS dalam konflik luar negeri.
Pada Juli 2026, sebanyak 103 anggota DPR dari Partai Demokrat memilih mendukung usulan penghentian bantuan militer tahunan sebesar 3,3 miliar dolar AS kepada Israel.
Meski usulan tersebut gagal, jumlah dukungan mencakup hampir separuh dari total anggota fraksi Demokrat di DPR.
Pergeseran serupa mulai muncul di organisasi pemuda konservatif seperti College Republicans, yang mengedepankan prioritas domestik dibandingkan konflik Timur Tengah.
Hamas mengalami kekalahan berat di medan tempur darat. Namun, dinamika politik internasional kini dibentuk oleh pergeseran pandangan generasi baru pimpinan global.[]
Sumber: Newsweek






