Bagaimana India Menjadi Sangat Bergantung pada Impor dari China?
“Namun, produksi tersebut sebagian besar masih berbasis perakitan dan sangat bergantung pada komponen impor, terutama dari China,” kata Srivastava.
Hal yang sama terjadi pada mesin industri, bahan baku baterai, bahan kimia, sel surya, dan peralatan manufaktur.
Mesin listrik dan elektronik saja menyumbang 36% dari impor India, disusul mesin dan peralatan mekanis sebesar 21,7%. Bahan kimia organik dan plastik juga memiliki porsi yang cukup besar, menurut lembaga pemikir Observer Research Foundation (ORF).
“Gangguan terhadap pasokan tersebut tidak hanya akan memengaruhi konsumsi; gangguan itu juga akan menghambat produksi itu sendiri,” kata Soumya Bhowmik, Fellow di Centre for New Economic Diplomacy, ORF. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan kesulitan India menggantikan bahan baku dan komponen dari China dengan produksi dalam negeri.
Selain ketergantungan yang semakin besar terhadap bahan baku dan input produksi, impor China ke India juga didorong oleh sejumlah tren makroekonomi lainnya.
China memiliki kelebihan kapasitas produksi yang sangat besar, mulai dari baja hingga panel surya dan kendaraan listrik. Sementara itu, perekonomian China yang melambat tidak mampu menyerap seluruh hasil produksinya.
Karena itu, para produsen semakin beralih ke pasar luar negeri dengan menjual produk mereka dengan harga murah. Surplus perdagangan China diperkirakan akan menembus 1 triliun dolar AS untuk tahun kedua berturut-turut.
Banyak produk tersebut masuk ke pasar India karena India sedang memperluas manufaktur secara cepat di berbagai sektor perekonomian. Selain itu, menurut Srivastava, produk China juga masuk karena “pasar-pasar Barat memberlakukan tarif dan pembatasan lainnya”.
India memang telah mengurangi impor telepon pintar, tetapi masih sangat bergantung pada China untuk komponennya.
Di sisi lain, terbatasnya akses ke pasar China tetap menjadi tantangan besar bagi perusahaan-perusahaan India.
“Produk-produk India menghadapi berbagai hambatan tarif dan non-tarif di China yang membuat ekspor dalam skala besar menjadi sulit,” kata Li.
“Jika normalisasi [hubungan] terus berlanjut tanpa dorongan serius untuk membuka akses pasar secara timbal balik, India berisiko menghadapi situasi ketika hubungan politik membaik, tetapi ketergantungan ekonominya tetap sama.”






