Bukan Sekadar ‘Screen Time’, Bangun Kedekatan Anak dan Orang Tua di Era Digital
Anak perlu memiliki kemampuan mengendalikan diri. Mereka perlu memahami mana yang bermanfaat dan mana yang merusak. Mereka perlu memiliki nilai, karakter, dan fondasi agama yang kuat sehingga ketika suatu hari orang tua tidak lagi berada di samping mereka, mereka tetap mampu mengambil keputusan dengan benar.
Sebab kita tidak mungkin selamanya berdiri di belakang anak sambil berkata, “Jangan buka itu”, “Jangan lihat ini”, atau “Sudah, matikan HP.”
Akan tiba waktunya anak memiliki perangkat sendiri, mengakses dunia sendiri, dan membuat keputusan sendiri. Pada saat itulah yang menyelamatkan mereka bukan lagi sekadar aturan orang tua, melainkan karakter yang telah ditanamkan sejak kecil.
Maka pendidikan digital pada anak sesungguhnya bukan hanya tentang teknologi. Ia adalah tentang membangun manusia.
Manusia yang mampu mengendalikan keinginan. Manusia yang tahu kapan harus berhenti. Manusia yang tidak menjadikan hiburan sebagai kebutuhan utama. Manusia yang mampu berinteraksi secara nyata, berempati, bertanggung jawab, dan tetap memiliki hubungan yang sehat dengan dirinya, keluarganya, masyarakat, serta Tuhannya.
Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk memenangkan “perang” melawan gadget, tetapi justru kalah dalam memenangkan hati anak.
Kita bisa saja berhasil mengurangi satu jam screen time anak hari ini. Tetapi apakah kita berhasil menambah satu jam heart time bersama mereka?
Apakah hari ini kita benar-benar mendengarkan ceritanya? Apakah kita memeluknya? Apakah kita bermain bersamanya? Apakah kita mengetahui apa yang sedang ia pikirkan? Apakah ia merasa aman untuk datang kepada kita ketika mengalami masalah?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa menit layar menyala.
Sebab suatu hari nanti anak-anak kita akan tumbuh dewasa. Mereka mungkin tidak lagi membutuhkan kita untuk mengatur berapa lama mereka menggunakan gadget. Namun, mereka akan tetap membutuhkan tempat untuk pulang ketika hidup terasa berat.
Dan tempat itu seharusnya adalah rumah. Jangan sampai kita sibuk membatasi layar anak, tetapi lupa mengisi hatinya. Jangan hanya merebut gadget dari tangannya. Rebut kembali kedekatan dengannya. Sebab persoalan terbesar parenting di era digital bukan sekadar ketika anak terlalu dekat dengan layar.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika anak merasa terlalu jauh dari orang tuanya, lalu menemukan layar sebagai tempat untuk merasa ditemani.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir, mau belajar, mau mendengarkan dan konsisten memberikan teladan. Karena teknologi boleh semakin canggih. Layar boleh semakin besar. Dunia digital boleh semakin luas. Tetapi satu hal tidak boleh kehilangan tempatnya: kedekatan hati antara anak dan orang tua.[]
Selvi Sri Wahyuni, M.Pd., Praktisi Pendidikan






