LAPSUS

Cendekiawan Muslim Malaysia Wan Mohd Nor Wan Daud Luncurkan Buku Puisi ‘Pohon Kebaikan Peradaban Fadilah’

Menurut Muammar, umat Islam tidak menghadapi problem kesenjangan generasi (generation gap), meskipun selama ini disebutkan adanya pembagian Generasi X, Y, Z dan setiap generasi dibilang mememiliki cara pandang dan nilai sendiri. Ia mengakui saat ini merupakan zaman dengan tantangan yang paling hebat.

“Karena itu kita perlu persiapan, bekal yang lebih hebat. Bekal ilmu, ruh, yang itu sudah ditiupkan oleh Rasul Saw sejak awal. Dia kekal sepanjang massa. Prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh. Itulah yang ingin disampaikan Prof Wan,” jelas dia.

Sufi yang Muharrik

Novelis kondang Indonesia, Habiburahman El Shirazy, mengaku baru tahu jika seorang pemikir dan intelektual ternama seperti Prof. Wan Daud ternyata juga seorang penyair atau sastrawan. Ia mengaku menjadi bersemangat untuk menulis puisi setelah membaca karya-karya Wan Daud. “Selama ini saya keasyikan nulis novel, padahal awalnya nulis puisi,” kelakar Kang Abik, sapaan akrabnya.

Dalam paparannya, Ketua LBPI MUI ini mengaku tidak beranai untuk mengritik kumpulan puisi karya Wan Daud yang dibukukan berjudul “Pohon Kebaikan” itu.

Menurut Kang Abik, menurut timbangan estetika, puisi-puisi “Pohon Kebaikan” memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda dengan puisi-puisi yang karya Prof. Wan Mohd Nor sebelumnya, seperti “Mutiara Taman Adabi” dan “Dalam Terang.”

Karena itu, menilai karya Wan Daud terbari ini ia meminjam penilaian Prof. Naquib Al Attas, “Pada hemat saya ciri-ciri puisi keislaman… memang nyata terdapat dalam puisi Profesor Wan Mohd Nor Wan Daud. Dan meskipun bentuk dan gaya bahasa dan penyampaiannya masih boleh diperbaiki dan diperhalusi.”

Menurut penulis novel terkenal “Ayat-Ayat Cinta” ini, buku puisi karya Wan Daud memiliki empat kelebihan dan keistimewaan. Pertama, secara konten, kaya tema dan padat ide. Kedua, dapat dikategorikan sebagai puisi-puisi pemikiran. Artinya lebih dominan sebagai wadah menyampaikan pemikiran dibandingkan perenungan.

Ketiga, kata Kang Abik, jika digabung dengan kumpulan puisi-puisinya terdahulu, maka karya-karya Prof. Wan Mohd Nor bisa disebut kumpulan puisi paling komprehensif mengulas peradaban Islam di Tanah Melayu saat ini. Lalu keempat, warnanya menggabungkan unsur tasawuf dan semangat harakah (gerakan, red).

“Beliau ini sufi yang muharrik. Karyanya ada unsur sufi, tetapi juga kuat harakahnya,” ungkap Kang Abik yang pada akhir Desember lalu berhasil mempertahankan disertasinya di Universitas Leipzig dan meraih gelar Doktor (Dr.phil) dengan yudisium Magna Cum Laude.

Sekilas tentang Prof. Wan Daud

Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud adalah seorang cendekiawan Muslim terkemuka pada era kontemporer. Ia pernah menjabat sebagai pemegang kursi Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Pemikiran Islam di Raja Zarith Sofah Centre for Higher Studies in Islam, Science and Civilisation (RZS-CASIS), Universitas Teknologi Malaysia.

Saat ini, ia menjabat sebagai penasihat akademik dan strategis bagi Akademi Jawi Malaysia, tutor utama untuk Program Kepemimpinan Islam Berbasis Tujuan (PIL) yang diselenggarakan oleh Institut Perbankan dan Keuangan Islam Malaysia (IBFIM), anggota Dewan Pengawas Yayasan Tenaga Nasional, serta penasihat bagi Jaringan Pendidikan Az-Zuhri di Singapura.

Wan Daud lahir di Tanah Merah, Kelantan pada 23 Desember 1955 dan memperoleh gelar Sarjana dalam Biologi dan gelar Magister dalam Pendidikan (Kurikulum dan Pengajaran), keduanya dari Northern Illinois University, Dekalb, Illionis.

Dia lalu melanjutkan studi doktoralnya (Ph.D) di University of Chicago dan menyelesaikan tesisnya di bawah bimbingan Profesor Fazlur Rahman pada 1988.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button