RESONANSI

Pidato Penghormatan Presiden Zaituna College Atas Wafatnya Profesor Syed Muhammad Naquib Al Attas

Alhamdulillah. Salah satu aspek kehidupan yang paling menyakitkan tentu saja adalah kehilangan orang-orang yang kita cintai. Dan terkadang, orang-orang itu tidak selalu berasal dari keluarga kita sendiri. Bahkan bisa jadi mereka adalah orang yang sangat kita ambil manfaat darinya, meskipun kita mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan mereka.

Namun kali ini kita telah kehilangan salah satu tokoh besar dalam komunitas kita, salah satu cahaya yang bersinar di antara gugusan para ulama dan orang-orang bijak—yaitu seorang filsuf dan cendekiawan besar dari Malaysia. Alhamdulillah, saya memiliki keberuntungan besar karena sudah mengenalnya sejak sangat awal dalam perjalanan keislaman saya.

Ini sudah hampir 50 tahun yang lalu, ketika saya pertama kali diperkenalkan dengan karya-karyanya di akhir tahun 1970-an. Ia memberikan pengaruh yang sangat besar secara pribadi bagi saya, dan saya merasa memiliki hutang budi yang sangat dalam kepadanya.

Saya juga mendapat kehormatan luar biasa untuk dapat bertemu dengannya berkali-kali ketika mengunjungi Malaysia. Beberapa kenangan paling berkesan dalam hidup saya adalah saat menghabiskan malam penuh bersamanya—berbincang, belajar, dan berdiskusi.

Beliau adalah sosok manusia yang sangat cerdas dan luar biasa dalam banyak hal. Jika istilah “manusia Renaisans” bisa disematkan kepada seseorang, maka itu sangat layak untuk beliau—karena ia jauh lebih dari sekadar seorang filsuf.

Ia juga seorang arsitek. Seorang kaligrafer ulung. Ia mencintai budaya Melayu dan merupakan seorang sejarawan yang hebat. Ia juga seorang penyair. Seseorang yang benar-benar memperhatikan setiap detail dalam kehidupan.

Namun di sisi lain, ia juga seorang militer. Ia pernah belajar di Sandhurst di Inggris dan menjadi perwira di angkatan bersenjata Melayu. Akan tetapi, ia memiliki dorongan yang sangat kuat terhadap kehidupan intelektual, sehingga ia mendalami ilmu secara mendalam, yang kemudian membawanya kepada eksplorasi spiritualitas serta hubungan antara akal dan ruh. Hingga akhirnya ia meraih gelar PhD.

Yang luar biasa, para pembimbingnya adalah seorang ahli Arab dan Persia besar sekaligus ahli bahasa ulung, AJ Arberry—yang menerjemahkan Al-Qur’an—serta Martin Lings, seorang cendekiawan, penerjemah, dan penyair yang sangat mumpuni.

Alhamdulillah, saya juga mendapat kesempatan untuk mewawancarainya—mungkin salah satu dari sedikit wawancara yang pernah ia berikan. Wawancara itu dilakukan dalam sebuah program yang saya kerjakan bersama Asa Bogari, seorang pembuat film dari Arab Saudi. Itu adalah pengalaman yang sangat luar biasa, duduk bersama seorang bijak dan mendengarkan langsung hikmah darinya.

Saya rasa beliau telah menulis beberapa buku paling penting untuk membantu kita memahami dan menavigasi wacana Islam modern, serta memahami kondisi yang kita hadapi saat ini. Salah satu bukunya berjudul Islam and Secularism, yang menurut saya wajib dibaca oleh setiap Muslim yang ingin memahami krisis zaman sekarang, karena ia benar-benar menyentuh akar persoalan.

Saya ingin membacakan sedikit kutipan dari buku tersebut dan membahasnya secara singkat.

Ia mengatakan bahwa kebingungan dalam memahami Islam dan pandangan hidup Islam menciptakan kondisi yang memungkinkan muncul dan berkembangnya pemimpin-pemimpin palsu, yang kemudian menimbulkan ketidakadilan. Mereka mempertahankan kondisi ini karena hal itu menjamin terus munculnya pemimpin seperti mereka untuk menggantikan mereka setelah mereka tiada, sehingga dominasi mereka atas urusan umat terus berlanjut.

1 2Laman berikutnya
Back to top button