SILATURAHIM

Debu-debu Itu

Selepas shalat malam menjelang subuh, Rabu, 2 Desember 2020, entah mengapa tangan saya tergerak untuk meraih telepon genggam. Seolah ada yang menuntun, saya langsung membuka aplikasi WA, lalu membuka grup Keluarga Alumni LDK.

Saya lihat ada pesan dari nomor Kang Nurbowo, pukul 00.47: “Bapak yang punya hp lagi sakit dan dirawat di RS di Pesisir Selatan.”
“Deg!” jantung saya langsung berdegup kencang.

Selanjutnya, Kang Sumunarjati memposting kabar kelanjutannya pada pukul 02.50: “Ya ikhwan dan akhwat.. saya mendapat kabar duka… Sahabat kita tercinta sudah kembali ke pangkuan-Nya… Ya Allah… Ya Allah… Semoga berita ini tidak benar, tapi saya WA Ustadz Adian… beliau membenarkan…”

Saat itu saya masih setengah tak percaya, dan terwakili posting pertanyaan Bang Zulkarnain pukul 02.50: “Siapa?”
Pada saat yang hampir bersamaan, Kang Jati meneruskan kabar: “Yang ngabari dari Dewan Dakwah. Mereka lagi safari ke arah Padang. Di Pesisir Selatan, yang bersangkutan pingsan dan meninggal di sana. Saat ini jenazah masih di Pesisir Selatan. Lagi diurus pengurus DDII di sana. Kemungkinan 10 jam perjalanan darat. Pesawat tidak memungkinkan, harus ini itu, kata pengurus DDII…”
Lalu…
“Akhina Nurbowo…”

Sejenak saya masih termangu-mangu membaca kabar duka dini hari itu, sampai kemudian tak terasa air mata mulai mengambang di pelupuk mata.
Ketika isteri saya bertanya, “Ada apa?” Seketika air mata pun luruh…
“Kang Bowo meninggal…”

Selama hampir dua tahun terakhir, berita itu sungguh saya takutkan. Sebab, selama ini saya mengetahui bahwa Kang Bowo, guru dan sahabat saya itu mengalami gangguan jantung. Beberapa kali dia harus dirawat di rumah sakit atau rawat jalan gara-gara masalah di jantungnya itu. Tapi dia selalu tampak santai dan penuh canda menjalani sakitnya, bahkan seolah tak terlalu peduli dengan kondisi tubuhnya. Misalnya ketika saya tanya via WA pada 29 September 2019, ketika kami tengah sibuk menginisiasi Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB.
“Katanya lagi sakit?”
“Yo ini mekso nongol, sakno Husein,”
“Sakit apa?”
“Biasa, lelah dan bengek, wis tuwo…”
“Kurang jamu galian kabel, Kang… Syafakallah…”
Ia pun menjawab dengan emoticon tersenyum dan jempol.
Saat itu rupanya mulai terdeteksi bahwa ada masalah di jantungnya.

Beberapa kali saya sempat ngobrol via WA, zoom, dan juga ketemu langsung dengan Kang Bowo. Setiap kali bertemu, saya selalu mengingatkan agar dia jangan sampai kecapean, dan meminta sedikit mengurangi jadwal muhibbahnya.
“Wis tuwo, Kang… ojo kesel-kesel,” kata saya mengingatkan.
“Sippp… insyaa Allah,” ujarnya dengan nada riang. Seolah tak ada masalah sama sekali di tubuhnya.
Tapi tetap saja. Saat saya pantau via facebook dan beberapa grup WA yang kami ikuti, Kang Bowo masih saja rajin muhibbah ke luar daerah sambil memposting gambar selfie dengan berbagai caption lucu dengan guyonan khasnya.

Sebagai penanggung jawab penyaluran LAZIS Dewan Dakwah, dan pernah juga menjadi penanggung jawab penyaluran LAZIS Darul Qur’an, Kang Bowo memang rajin muhibbah. Ia menyambangi para dai, menyalurkan bantuan untuk para ustadz, mualaf, dan kaum muslimin marginal di desa-desa tertinggal di hampir seluruh pelosok Indonesia, yang saya bahkan belum pernah mendengar namanya, hingga sampai ke Rohingya, Bangladesh dan Thailand Selatan. Bahkan pageblug covid-19 ini pun tak menyurutkan langkahnya untuk berkunjung ke berbagai daerah.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button