#Bebaskan PalestinaOPINI

Di Tepi Barat yang Diduduki, Perang Terus Berlanjut

Para pemukim dan tentara Israel terus meneror komunitas Palestina sebagai persiapan menuju aneksasi.

Bayang-Bayang Aneksasi

Selama beberapa dekade sejak pendudukan tahun 1967, Israel berhasil menguasai hampir setengah wilayah Tepi Barat. Hal ini dilakukan dengan membangun permukiman dan merampas tanah Palestina dengan alasan “tanah negara” atau “zona militer”.

Perampasan tanah meningkat pesat setelah 7 Oktober; sedikitnya 12.300 hektare (sekitar 4.978 hektare) telah disita dalam dua tahun terakhir.

Tanah yang disita biasanya digunakan untuk membangun pos permukiman baru atau memperluas yang sudah ada. Pembangunan permukiman ini tidak acak—tanah dipilih dengan tujuan mengepung desa-desa Palestina, menciptakan sabuk permukiman yang mencegah kesinambungan geografis wilayah Palestina, dan menggagalkan impian negara merdeka di masa depan.

Untuk mempertahankan permukiman ilegal itu, Israel juga merebut sumber daya alam Tepi Barat, terutama air. Hampir semua sumber air kini dikuasai untuk melayani ekspansi permukiman.

Akibatnya, warga Palestina menjadi sangat bergantung pada perusahaan air Israel “Mekorot”, yang hanya memberikan kuota air kecil bagi wilayah padat penduduk Palestina, sementara pemukim menerima beberapa kali lipat dari itu per orang.

Setiap musim panas, ketika kekeringan melanda, warga Palestina terpaksa membeli air tambahan dengan harga sangat mahal dari Mekorot. Sementara itu, sumur dan tangki air hujan Palestina sering dihancurkan atau dirusak.

Sejak 7 Oktober 2023, pemerintah Israel mempercepat upaya aneksasi resmi. Kami merasakan bahwa pengambilalihan Area C—wilayah yang menurut Perjanjian Oslo berada di bawah kendali penuh Israel—sudah di ambang pelaksanaan.

Ini berarti desa-desa Palestina akan digusur dan penduduknya dipaksa pindah ke Area A, yang hanya mencakup 18 persen dari Tepi Barat. Setelah itu, giliran Area B. Proses pengusiran paksa ini sudah dimulai terhadap komunitas Badui di kedua wilayah tersebut.

Inilah kenyataan kami di Tepi Barat. Sementara konferensi dan pertemuan perdamaian digelar, dan “perdamaian di Timur Tengah” diumumkan, kami tidak mengenal apa itu damai. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, kami ditindas, diintimidasi, dirampas, dan dibunuh.

Selama puluhan tahun, Israel menolak solusi politik dan memilih kebijakan penguasaan tanah, manusia, dan sumber daya. Ia terus berperang terhadap kami bahkan ketika serangannya berhenti.

Satu-satunya jalan menuju perdamaian sejati adalah mengakui pendudukan dan mengakhirinya. []

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button