MUHASABAH

Dirgahayu Indonesia di Kamp Konsentrasi

Sejak kemarin, di mana-mana rakyat negara ini mencoba menghibur diri. Tampaknya memang terhibur. Oleh berbagai lomba tahunan 17 Agustusan.

Seperti biasa, ada lomba tarik tali. Lomba lari berkarung. Lomba ketangkasan membawa sendok berisi benda sambil berjalan. Begitu juga panjat pohon pinang.

Rakyat, anak-anak maupun dewasa, kelihatan bisa menghilangkan semua masalah dalam dua hari ini. Demikian pula para penguasa yang melaksanakan upacara resmi di Istana Merdeka dengan atraksi pakaian adat. Mereka pun kelihatan lepas dari masalah. Atau, mereka memang tidak pusing dengan segala masalah yang melanda bangsa dan negara ini.

Baik rakyat yang bergembira, maupun para penguasa yang merasa tak punya masalah, sesungguhnya berada di lokasi yang sama. Yaitu di kam konsentrasi canggih. Yang tidak menampakkan siksaan secara fisikal oleh para pemilik kam konsentrasi itu. Tetapi, tersiksa.

Rakyat yang berada di kam konsentrasi modern itu disebabkan oleh para penguasa yang kehilangan akal sehat. Sedangkan para penguasa ikut masuk ke situ karena ketiadaan akal sehat itu.

Indonesia merdeka? Dulu mungkin iya. Tapi, sejak 6-7 tahun ini rakyat Indonesia harus menjalani “kerja paksa” melayani kehendak pemilik kam konsentrasi. Kerja paksa karena kecerobohan para penguasa yang menggadaikan negara ini kepada China melalui skema utang dan investasi akal-akalan.

Rakyat juga harus melayani nafsu para konglomerat bangsat yang berkolaborasi dengan para penguasa bejat. Sempurnalah kam konsentrasi modern itu di bawah kendali China, konglomerat bangsat dan penguasa non-akal sehat. Orang-orang inilah yang mendikte apa saja yang menguntungkan mereka.

Banyak orang yang paham tentang penipuan terhadap rakyat. Tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Uang pemilik kam konsentrasi terlalu kuat untuk dilawan. Cengkeraman mereka sudah sangat kokoh.

Untuk sementara ini, rakyat hanya bisa menikmati lomba-lomba hiburan sekadar penghilang kepiluan hidup. Entah berapa kali HUT RI lagi kamp konsentrasi ini baru bisa dilenyapkan.

Semoga kemerdekaan itu tidak terlalu lama mengalami “skorsing”.[]

17 Agustus 2021

Asyari Usman, Pemerhati Sosial Politik.
sumber: facebook asyari usman

Artikel Terkait

Back to top button