Dramawan Gaza Ali Abu Yasin Raih Penghargaan di Inggris
Ali Abu Yasin, yang mendapat penghargaan atas keteguhannya berkarya, telah melewati pemboman Israel, pengungsian, dan kehilangan orang-orang terdekat selama tiga tahun terakhir.
Oleh: Laura O’Connor
Ali Abu Yasin, seorang dramawan asal Gaza yang terus menulis meskipun kampanye genosida Israel menghancurkan dunia di sekelilingnya, meraih penghargaan bergengsi di London.
“Penghargaan ini sangat berarti bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi Gaza, Palestina, dan seluruh rakyat Palestina,” kata Ali Abu Yasin kepada Al Jazeera.
Pada Kamis, kelompok sastra English PEN menobatkannya sebagai “Writer of Courage 2026” (Penulis Pemberani 2026).
Pria berusia 62 tahun itu mulai menulis naskah drama dan menguasai alat musik oud saat masih remaja di Kamp Pengungsi al-Shati, Gaza. Kamp tersebut merupakan salah satu kamp pengungsi terbesar di Jalur Gaza dan menjadi sasaran serangan baru-baru ini.
“Memang begitulah diri saya sejak lahir. Sejak kecil, saya ingin mengekspresikan diri melalui seni,” tuturnya kepada Al Jazeera.
Setelah perang dimulai pada Oktober 2023, Abu Yasin berhenti menulis naskah drama dan mulai menulis tentang kehidupan di bawah pemboman Israel.
Ia mengatakan, selama dua tahun pertama, dirinya menulis tentang situasi di Gaza ketika warga Palestina melarikan diri dan hidup dalam ketakutan akan kehilangan nyawa.
“Tidak ada teater. Mustahil mengadakan pertunjukan teater karena Gaza sedang dihancurkan,” kata sang penulis sambil menggelengkan kepala.
Sejak 2023, Israel telah membunuh lebih dari 74.000 orang di Gaza, sementara sebagian besar penyintas telah berulang kali dipaksa mengungsi.
Abu Yasin kini bekerja bersama para aktor yang berlatih menghafalkan dialog di tenda-tenda darurat, di tengah suara tembakan.
“Saya nyaris mati empat atau lima kali. Saya melihat orang-orang di sekitar saya meninggal. Kami bertahan hidup karena kebetulan, dan mereka yang meninggal pun meninggal karena kebetulan,” kata Abu Yasin kepada Al Jazeera.
“Anak laki-laki saya pernah terjebak di bawah reruntuhan. Rumah saya dibom. Jadi, selama dua tahun itu, saya hanya berusaha memberikan sedikit rasa aman kepada keluarga saya. Melindungi mereka dari kelaparan. Dan mendokumentasikan apa yang sedang terjadi, agar dunia dapat mendengar suara saya sebelum saya meninggal.”
Setelah sempat berhenti menulis, ia menyusun beberapa skenario film yang disembunyikan dan terus dibawanya selama berpindah-pindah tempat akibat pengungsian.






