#Bebaskan PalestinaSOSOK

Dramawan Gaza Ali Abu Yasin Raih Penghargaan di Inggris

Ali Abu Yasin, yang mendapat penghargaan atas keteguhannya berkarya, telah melewati pemboman Israel, pengungsian, dan kehilangan orang-orang terdekat selama tiga tahun terakhir.

PEN America, organisasi serupa di Amerika Serikat, mendapat kecaman dalam beberapa tahun terakhir karena dituding tidak memberikan dukungan kepada para penulis Palestina. PEN America menghadapi aksi boikot yang berujung pada pengunduran diri presidennya pada 2025.

English PEN, yang beroperasi secara independen dari kelompok Amerika tersebut, bergabung dengan PEN International menyerukan embargo senjata terhadap Israel dan mengecam pembunuhan para penulis Palestina.

Rose menggambarkan karya Abu Yasin sebagai “seruan untuk keadilan, jeritan kemarahan, dan pencarian spiritual” dalam siaran pers.

“Ia secara konsisten mencatat kerasnya dan kejamnya kehidupan rakyat Palestina, sekaligus menjadi mentor bagi anak-anak muda yang berjuang menemukan makna dari puing-puing kehidupan mereka.”

Rose mulai dikenal luas melalui bukunya pada 2005, The Question of Zion (Persoalan Zion), yang membahas Zionisme melalui pendekatan psikoanalisis.

‘Kami hanya menginginkan kebebasan’

Abu Yasin memiliki enam anak dan 16 cucu. Semuanya tinggal di Gaza, kecuali putranya, Amjad Abu Yasin, yang bekerja sebagai aktor di Prancis.

Di tengah pengalaman kehilangan, kehancuran, dan pengungsian, Abu Yasin tetap menyuarakan harapan sederhana rakyat Palestina.
“Di Gaza, impian kami sederhana. Kami ingin hidup dalam kedamaian dan kebebasan. Kami ingin langit dan laut terbuka bagi kami,” katanya.

“Kami hanya menginginkan sedikit kebebasan.” []

Sumber: Aljazeera.com

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button