#Bebaskan PalestinaSOSOK

Dramawan Gaza Ali Abu Yasin Raih Penghargaan di Inggris

Ali Abu Yasin, yang mendapat penghargaan atas keteguhannya berkarya, telah melewati pemboman Israel, pengungsian, dan kehilangan orang-orang terdekat selama tiga tahun terakhir.

‘Saya tidak benar-benar meninggalkan perang’

Pada 2004, Abu Yasin mulai bekerja di Teater Said Al-Mishal, sebuah pusat kebudayaan Palestina di Kota Gaza. Gedung teater tersebut diratakan dalam serangan bom Israel pada 2018.

Sejumlah dramawan dan sutradara terkemuka menggambarkan serangan itu sebagai “pemusnahan simbol kebudayaan dan identitas Palestina” dalam sebuah surat kepada surat kabar The Guardian.

Pada 2008, Abu Yasin mulai menulis The Gaza Monologues (Monolog Gaza), serangkaian karya yang menggambarkan kehidupan di Gaza, baik saat-saat penuh kegembiraan maupun penderitaan.

Beberapa pekan lalu, Abu Yasin meninggalkan Gaza dengan dukungan program residensi seniman di Prancis.

“Saya sebenarnya tidak benar-benar meninggalkan perang. Perang hidup dalam diri saya, Gaza hidup dalam diri saya,” katanya.

Ia mendapati dirinya tetap menghemat sedikit air yang tersedia dan meminimalkan pemborosan. Kebiasaan itu terbentuk selama bertahun-tahun menjalani krisis kemanusiaan.

Upacara penghargaan tersebut bertepatan dengan perjalanannya ke Prancis. Secara kebetulan, ia dapat menghadiri acara itu secara langsung. Bagi English PEN, kesempatan menggelar upacara secara langsung di British Library bukanlah sesuatu yang dianggap biasa.

“Selama bertahun-tahun, para penulis yang tinggal di Gaza termasuk di antara orang-orang di dunia yang memiliki kebebasan bergerak paling terbatas. Kami menyadari kenyataan ini dan dampak langsungnya terhadap kebebasan berekspresi mereka,” kata seorang juru bicara English PEN kepada Al Jazeera.

Drama terbaru Abu Yasin, 50 Minutes (50 Menit), telah dipentaskan di Gaza. Karya itu mengisahkan genosida dan duka mendalam.

Para aktor berlatih di sebuah tenda darurat di tempat parkir. Banyak di antara mereka tidak memiliki pengalaman teater sebelumnya.

Abu Yasin dinominasikan oleh Jacqueline Rose, akademisi Inggris sekaligus kritikus kebudayaan yang meraih penghargaan PEN Pinter Prize 2026.

Menurut English PEN, penghargaan Writer of Courage diberikan kepada penulis yang aktif membela kebebasan berekspresi, sering kali dengan mempertaruhkan keselamatan dan kebebasan mereka sendiri. Penerimanya berbagi penghargaan PEN Pinter Prize dengan pemenang penghargaan tersebut.

English PEN merupakan cabang Inggris dari PEN International, sebuah organisasi penulis global yang berkomitmen memperjuangkan kebebasan berekspresi dan advokasi sastra di seluruh dunia.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button