Eropa Sedang Bermasalah, dan Mereka Salahkan Umat Islam
Oleh: Farid Hafez, Peneliti Senior di The Bridge Initiative, Universitas Georgetown.
Ketika demonstrasi di Prancis berubah menjadi kekerasan pada akhir pekan lalu, kelompok sayap kanan Prancis dengan cepat menggunakan narasi rasis untuk menyalahkan pemuda Muslim atas kerusuhan tersebut. Beberapa pekan sebelumnya, ketika ribuan migran mencoba memasuki wilayah eksklave Spanyol di Ceuta dari negara tetangga Maroko, kelompok sayap kanan Spanyol menyuarakan isu “invasi” terorganisir oleh warga Maroko.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga turut memberikan komentar dengan mengklaim bahwa fenomena ini berkaitan dengan “Islam yang ingin mengambil alih”.
Meskipun kesiapan kelompok sayap kanan untuk mengeksploitasi krisis demi memicu Islamofobia sudah diperkirakan, gagasan bahwa Islam dan umat Islam bertanggung jawab atas meningkatnya permasalahan di Eropa kini tidak lagi terbatas pada kelompok ekstremis dalam spektrum politik Eropa.
Pekan lalu, ketika aksi unjuk rasa mahasiswa sedang memanas di Prancis, Parlemen Eropa secara diam-diam mengesahkan sebuah resolusi “tentang perlunya strategi Uni Eropa (European Union / EU) untuk melawan infiltrasi Islamis (Islamist entryism) dan pengaruh jaringan Ikhwanul Muslimin”. Teks resolusi tersebut diajukan oleh kelompok tengah-kanan European People’s Party (EPP), kelompok terbesar di parlemen yang juga merupakan asal Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen.
Resolusi tersebut disahkan dengan 381 suara setuju, 167 menolak, dan 15 abstensi. Empat kelompok lain mendukung EPP secara hampir konsisten: kelompok sayap kanan Patriots for Europe dan Europe of Sovereign Nations, kelompok liberal Renew Europe, serta European Conservatives and Reformists.
Kelompok Social Democrats, Left, dan Greens sebagian besar memilih menolak, tetapi tidak mampu menghentikan pengesahan tersebut.
Resolusi yang mengacu pada laporan pemerintah Prancis yang dinilai sangat bermasalah mengenai “Islam politik” ini membuat sejumlah klaim keliru yang berdampak luas bagi komunitas Muslim.
Dokumen tersebut mendefinisikan “infiltrasi Islamis” sebagai “strategi pengaruh politik, penataan progresif, penetrasi institusional, dan legitimasi ideologis”. Resolusi itu mengeklaim bahwa “pengaruh Islamis beroperasi melalui ekosistem yang luas dan terfragmentasi dari asosiasi, yayasan, serta struktur aksi budaya, pendidikan, keagamaan, amal, universitas, kepemudaan, anti-diskriminasi, atau sosial”.
Secara lebih spesifik, resolusi itu menyebutkan bahwa “kerangka kerja keberagaman, kesetaraan, inklusi, dan anti-diskriminasi dapat disimpangkan sebagai vektor legitimasi institusional, dengan mengintegrasikan identitas keagamaan yang dipolitisasi ke dalam upaya perlindungan minoritas”. Dengan kata lain, jaringan seperti Ikhwanul Muslimin dianggap “menginfiltrasi” masyarakat Eropa melalui inisiatif anti-Islamofobia.
Resolusi ini bersifat tidak mengikat (non-binding) dan negara-negara anggota Uni Eropa tidak diwajibkan untuk mengimplementasikannya. Imbauannya untuk memasukkan Ikhwanul Muslimin beserta individu dan entitas yang terhubung ke dalam daftar teroris kemungkinan besar tidak akan diterapkan di seluruh Eropa, mengingat penolakan kekerasan oleh gerakan tersebut sebagai alat politik.
Meskipun demikian, resolusi tersebut tetap memberikan legitimasi pada kerangka ideologis yang dapat berdampak buruk bagi komunitas Muslim.
Dokumen tersebut menempatkan lembaga dan organisasi Muslim yang beroperasi secara independen di bawah kecurigaan, serta menampilkan keterlibatan masyarakat sipil Muslim dalam kegiatan publik sebagai bentuk infiltrasi.
Resolusi tersebut menyebutkan beberapa organisasi, termasuk European Network Against Racism (ENAR) yang berbasis di Brussel, dianggap menganut perilaku “Islamis” semacam ini. Dokumen itu juga menyerukan pemblokiran akses ke pendanaan Uni Eropa serta membatasi entitas yang didanai Uni Eropa untuk bekerja sama dengan mereka. Gagasan samar tentang “jaringan Ikhwanul Muslimin” dapat membuat tuduhan berdasarkan asosiasi (guilt by association) menyasar siapa saja.






