Kutuk Trump yang Ejek Nama Muhammad, Wakil Wantim MUI: Itu Islamofobia, Indonesia Harus Protes Keras!
Bogor (Suaraislam.id) – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyiddin Junaidi, mengutuk pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang bernuansa ejekan terhadap nama Mohammad. Ia menilai ejakan tersebut merupakan bagian dari Islamofobia yang terus menjadikan Islam dan Nabi Muhammad SAW sebagai sasaran hinaan.
Kiai Muhyiddin menegaskan, umat Islam wajib mengutuk pernyataan yang merendahkan nama yang sangat dihormati kaum Muslim di seluruh dunia itu. Menurutnya, ejekan Trump bukan sekadar lelucon politik, melainkan bentuk sikap anti-Islam yang terus dipertontonkan.
“Ejekan dan candaan Presiden Donald Trump adalah bagian dari Islamofobia yang senantiasa dijadikan candaan dan hinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW,” tegas Kiai Muhyiddin dalam keterangannya, Ahad (18/10/2026).
Ketua Dewan Penasihat JATTI (Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia) itu menilai Trump kali ini benar-benar telah kehabisan amunisi dalam menyuarakan sikap anti-Islam dan anti-Nabi Muhammad SAW, yang menjadi panutan umat Muslim global.
Kiai Muhyiddin mengingatkan, Trump seakan tidak menyadari bahwa nama Muhammad justru menjadi salah satu nama bayi paling populer di Inggris dan berbagai belahan dunia lainnya dalam satu dekade terakhir.
Menurutnya, semakin nama tersebut dihina dan direndahkan, semakin besar pula daya tarik masyarakat dunia, terutama di Amerika Serikat, untuk mengetahui lebih dalam makna yang terkandung di dalamnya.
“Semakin dihina dan direndahkan nama tersebut oleh manusia, semakin besar magnet yang menjadi daya tarik bagi penduduk dunia, terutama Amerika, untuk mengetahui lebih dalam tentang makna yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Kiai Muhyiddin juga menyampaikan bahwa data statistik terkini menunjukkan sekitar 250.000 narapidana di seluruh Amerika Serikat mendapatkan hidayah Allah. Ia menyebut mereka mengucapkan syahadat tanpa paksaan, ancaman, maupun tekanan, melainkan dengan kesadaran dan keikhlasan.
Atas pernyataan Trump tersebut, Muhyiddin mendesak pemerintah Indonesia untuk melayangkan protes keras kepada Presiden AS dan meminta agar candaan itu ditarik sebelum terlambat.
“Indonesia sepatutnya melayangkan protes keras terhadap Trump dan meminta agar menarik candaan tersebut sebelum terlambat dan kelak menyesal seumur hidup,” katanya.
Ia juga memperingatkan bahwa tindakan Trump berpotensi membawa kerugian besar bagi Partai Republik dalam perolehan dukungan politik.
Kiai Muhyiddin secara khusus mengimbau warga Muslim Amerika agar meninggalkan Partai Republik yang menurutnya telah dengan sengaja melakukan tindakan Islamofobia demi meraih kemenangan politik sesaat.
Kepada negara-negara cinta damai, terutama negara-negara Muslim, ia menyerukan agar menjauhkan diri dari para politikus yang dinilai mendukung Islamofobia.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah melontarkan lelucon mengenai popularitas nama Mohammad.
Ejekan tersebut disampaikan Trump ketika mengejek kepresidenan Iran dalam pidatonya di hadapan para pendukung saat kampanye pemilu sela, Sabtu (17/10/2026).
Pernyataan itu menuai kecaman karena nama Mohammad memiliki kedudukan penting bagi umat Islam, yang menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan dalam kehidupan. []






