Eropa Sedang Bermasalah, dan Mereka Salahkan Umat Islam
Hal ini dapat dengan mudah dijadikan senjata oleh aktor luar, dan hal tersebut telah terjadi. Uni Emirat Arab, misalnya, telah mendanai kampanye luas di Eropa dan tempat lain untuk mendiskreditkan individu dan organisasi sebagai afiliasi Ikhwanul Muslimin. Menariknya, beberapa bulan sebelum resolusi tersebut diajukan, seorang duta besar UEA berpartisipasi dalam konferensi bertajuk “Muslim Brotherhood: A real threat to Europe” yang diadakan di Parlemen Eropa. Meskipun pengaruh UEA ada di sana, resolusi itu sendiri mempermasalahkan “pendanaan asing” yang diduga mendukung “infiltrasi Islamis” dari Qatar atau Turki, sebuah indikasi lain dari geopolitik di balik layar.
Yang terpenting, resolusi tersebut membingkai pembelaan terhadap umat Islam dari tindakan rasisme sebagai bagian dari plot infiltrasi Islamis. Hal ini dapat berdampak langsung pada inisiatif dan debat publik yang berupaya mengatasi Islamofobia di masyarakat Eropa.
Secara simbolis, resolusi tersebut merupakan kemenangan besar bagi kekuatan anti-Muslim sayap kanan di Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa Parlemen Eropa telah mulai meninggalkan benteng pertahanan (firewall) terhadap kelompok sayap kanan seiring kelompok tengah-kanan yang semakin mendekat ke kelompok ekstremis tersebut. EPP tampaknya telah menyerap hampir sepenuhnya agenda sayap kanan, namun membingkainya dalam bahasa keamanan nasional.
Resolusi ini juga menunjukkan bagaimana Islamofobia di Eropa telah berkembang. Ketakutan tidak lagi berfokus pada imigran sebagai orang asing yang gagal untuk “berintegrasi”, melainkan pada umat Islam yang mampu bersuara untuk diri mereka sendiri dan mempertahankan hak-hak sipil mereka.
Bagi kelompok tengah-kanan, kerangka kerja yang memicu Islamofobia ini membawa keuntungan politik. Mereka tidak hanya mendapat keuntungan elektoral dari propaganda anti-Muslim, tetapi juga dapat menyerang kelompok kiri yang memilih menolak rasisme dan membela komunitas Muslim.
Tidak mengherankan jika ide “Islam-Kiri” (Islamo-gauchisme dalam bahasa Prancis) sedang dipromosikan di panggung politik Prancis. Jean-Luc Melenchon dari partai sayap kiri La France Insoumise sangat populer di kalangan komunitas terpinggirkan dan merupakan kontestan kuat untuk kepresidenan. Ia kini dituduh mendorong para “perusuh”, yang secara implisit dituduhkan kepada umat Islam.
Serangan ganda terhadap kelompok kiri dan umat Islam ini mencerminkan teori konspirasi lama Judeo-Bolshevik yang menyalahkan warga Yahudi atas penyebaran komunisme dengan tujuan menghancurkan peradaban Barat.
Saat ini, “Islam-Kiri” berfungsi sebagai kambing hitam bagi kelompok konservatif, liberal, dan sayap kanan dalam upaya mereka menyelesaikan kontra-revolusi terhadap kemajuan terbatas yang telah dicapai Barat dalam mengatasi rasisme dan ketimpangan sejak 1960-an. Proyek mereka tampak seperti upaya menciptakan benteng Eropa tanpa keberadaan umat Islam.
Betapapun lemahnya dasar resolusi “infiltrasi Islamis” ini, kita harus mengantisipasi langkah-langkah hukum yang lebih meragukan oleh aliansi konservatif di negara-negara anggota untuk membatasi ruang gerak independen umat Islam di luar kendali negara, terutama ketika mereka membela hak-hak sipil Muslim. Sementara itu, pihak-pihak yang menyebarkan ketakutan akan terus menyalahkan Islam atas masalah sosial dan aksi protes terhadap kebijakan hemat energi (austerity), serta para politisi akan terus mengarahkan kemarahan publik kepada komunitas Muslim untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan tata kelola mereka sendiri.
Yang dibutuhkan saat ini adalah respons tegas terhadap kontra-revolusi konservatif ini melalui pembelaan yang kokoh atas kebebasan sipil bagi semua orang.[]






