FINANSIAL

Gerak Syariah Dorong Kemandirian 600 Disabilitas

Memasuki sesi edukasi, Madam Ani memandu literasi keuangan syariah dengan simulasi perencanaan keuangan rumah tangga dan bisnis. Peserta diajak menyusun anggaran dengan mencatat pendapatan bulanan, pengeluaran harian, mingguan, hingga bulanan, termasuk biaya hidup, utang, proteksi, dan investasi.

Metode SWOT yang diperkenalkan oleh Farisah dianalogikan sebagai “cermin dan teropong”: cermin untuk melihat potensi yang dimiliki, dan teropong untuk menangkap peluang di sekitar.

Setelah Salat Ashar, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi Program Kartu Ta’awun serta pelatihan tematik seperti public speaking, eco-enzyme, cinta rupiah, journaling, storytelling, mediasi-negosiasi, hingga pelatihan kerja di lembaga zakat.

Motivasi dari Bunda Mirna menutup sesi inspiratif dengan pesan tentang ketenangan jiwa: tidak membenci, tidak berkeluh kesah, hidup sederhana, berprasangka baik kepada Allah, gemar berbagi, bersyukur “La’in syakartum la-azidannakum” mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka, serta menjauhi iri, dengki, dan permusuhan.

Acara ini ditutup dengan doa dan buka puasa bersama, menegaskan semangat kolaborasi dan ta’awun di bulan Ramadan.

Gerak Syariah 1447 H menjadi bukti bahwa literasi keuangan syariah bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan menuju kemandirian. Ketika kepedulian dan kolaborasi tumbuh, disabilitas berdaya bukan sekadar harapan — melainkan gerakan nyata menuju Indonesia yang lebih inklusif dan berjaya. []

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button