#Bebaskan PalestinaSOSOK

Hassan Salameh, Tahanan Palestina yang Diancam Eksekusi Mati oleh Menteri Ekstremis Israel

Salameh ditangkap pada 1996. Zionis Israel menolak untuk memasukkannya ke dalam kesepakatan pembebasan tahanan mana pun.

Kota Gaza (Suaraislam.id) — Setelah hampir tiga dekade mendekam di balik jeruji besi, tahanan Palestina Hassan Salameh kembali menjadi sorotan publik setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang memperlihatkan dirinya berada di dalam sel Salameh dan mengancam akan membunuhnya.

Salameh muncul dalam video tersebut dalam kondisi tangan terborgol saat Ben-Gvir berkata kepadanya: “Saya ingin membunuhmu. Saya ingin mengeksekusimu.”

Menteri ekstremis Israel tersebut kemudian menyatakan bahwa jika ia diangkat menjadi menteri pertahanan, ia akan bekerja untuk menerapkan hukuman mati bagi para tahanan Palestina.

Ben-Gvir menyebut pertemuan tersebut terjadi sekitar dua pekan lalu, sebelum ia merilis videonya pada Ahad (27/9/2026).

Rekaman video yang memperlihatkan Ben-Gvir di dalam sel Salameh serta ancaman hukum matinya memicu kecaman luas dari pihak Palestina. Hamas menyatakan bahwa ancaman pembunuhan dari menteri Israel tersebut menjadi sinyal aksi “pembunuhan baru” terhadap para tahanan.

Afiliasi dengan Hamas

Salameh lahir pada 9 Agustus 1971 di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, dan mulai terlibat dengan Hamas selama Intifada Palestina Pertama yang meletus pada tahun 1987.

Ia pernah dijebloskan ke dalam penahanan administratif oleh Israel sebanyak lima kali selama tahun-tahun tersebut, menurut Komisi Urusan Tahanan Palestina dan Perhimpunan Tahanan Palestina.

Seiring meningkatnya eskalasi ketegangan Palestina-Israel selama intifada, Salameh terlibat dalam aktivitas militer Hamas dan kemudian menjadi salah satu komandan Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata gerakan tersebut.

Sumber-sumber Palestina menyebutkan bahwa Salameh memiliki hubungan dekat dengan mantan Komandan Brigade Al-Qassam, Mohammed Deif, yang gugur diserang Israel pada tahun 2024.

Aktivitasnya kemudian meluas hingga ke Tepi Barat sebelum militer Israel menangkapnya di Hebron pada tahun 1996 menyusul bentrokan bersenjata yang membuatnya tertembak dan terluka.

Menurut Komisi Urusan Tahanan dan Perhimpunan Tahanan Palestina, Salameh menjalani interogasi selama kurang lebih empat bulan, di mana kedua organisasi tersebut menyebut ia mengalami berbagai tindakan penyiksaan.

Ia dijatuhi hukuman pada tahun 1997 berupa 48 kali hukuman penjara seumur hidup—rekor hukuman seumur hidup tertinggi ketiga yang dijatuhkan kepada tahanan Palestina setelah Abdullah Barghouti dan Ibrahim Hamed.

Israel menuding Salameh sebagai dalang serangkaian serangan pada tahun 1996 menyusul pembunuhan komandan senior Hamas, Yahya Ayyash.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button