Hassan Salameh, Tahanan Palestina yang Diancam Eksekusi Mati oleh Menteri Ekstremis Israel
Salameh ditangkap pada 1996. Zionis Israel menolak untuk memasukkannya ke dalam kesepakatan pembebasan tahanan mana pun.
Laporan pada Juli 2026 mengutip surat Salameh yang bocor dari Penjara Ganot, di mana ia menggambarkan krisis makanan, terbatasnya ruang olahraga luar ruangan, serta kesehatannya yang terus memburuk.
Ia mengaku menderita diare persisten selama setahun dan terus menunggu pemeriksaan medis.
Nama Salameh telah berulang kali muncul dalam negosiasi pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel selama bertahun-tahun.
Dalam pertukaran tahanan tahun 2011 yang membebaskan tentara Israel Gilad Shalit dengan imbalan 1.027 tahanan Palestina, Hamas berusaha memasukkan nama Salameh. Namun Israel menolak, dan ia tetap menjadi tahanan yang konsisten ditolak untuk dibebaskan.
Ancaman Ben-Gvir terhadap Salameh muncul di tengah eskalasi tindakan represif Israel terhadap tahanan Palestina serta advokasinya selama bertahun-tahun untuk menerapkan hukuman mati.
Maret lalu, Knesset Israel mengesahkan undang-undang yang mengizinkan penerapan hukuman mati bagi tahanan Palestina melalui pemungutan suara 62-48.
Berdasarkan undang-undang tersebut, eksekusi dilakukan dengan cara dihukum gantung oleh petugas yang ditunjuk, dengan identitas petugas dirahasiakan dan diberikan kekebalan hukum.[]
Sumber: Anadolu Agency






