#Bebaskan PalestinaSOSOK

Hassan Salameh, Tahanan Palestina yang Diancam Eksekusi Mati oleh Menteri Ekstremis Israel

Salameh ditangkap pada 1996. Zionis Israel menolak untuk memasukkannya ke dalam kesepakatan pembebasan tahanan mana pun.

30 Tahun di Balik Jeruji Besi

Salameh telah menghabiskan waktu hampir 30 tahun di dalam penjara Israel, termasuk sekitar 14 tahun berada di dalam sel isolasi (solitary confinement) dalam dua periode terpisah.

Masa isolasinya berakhir setelah aksi mogok makan massal yang dilancarkan oleh para tahanan Palestina pada tahun 2012.

Selama bertahun-tahun mendekam di penjara, keluarga Salameh hanya diizinkan mengunjunginya sebanyak dua kali.

Ibunya, Khadija, meninggal dunia pada Maret 2024 setelah bertahun-tahun dilarang menjenguk putranya.

Pada tahun 2010, Salameh menikahi mantan tahanan Palestina, Ghufran Zamel, namun otoritas Israel tidak pernah mengizinkan istrinya untuk mengunjunginya sejak saat itu.

Aktivitas Salameh di dalam penjara tidak terbatas pada kerja organisasi semata. Ia juga beralih menulis dan mendokumentasikan pengalamannya selama berada dalam tahanan dan sel isolasi.

Di antara karyanya yang paling terkenal adalah “Lima Ribu Hari di Dunia Barzakh”, yang menceritakan pengalaman panjangnya dalam sel isolasi dan dicatat oleh organisasi tahanan sebagai bagian dari karya sastra penjara Palestina.

Ia juga berhasil menghafal kitab suci Al-Qur’an selama masa pemenjarakannya, menurut sumber-sumber Palestina.

Salameh terpilih beberapa kali menjadi pimpinan senior tahanan Hamas yang mengelola urusan keorganisasian gerakan di dalam penjara-penjara Israel.

Kondisi Penahanan yang Kejam

Pada Mei 2025, Kantor Media Tahanan melaporkan bahwa Salameh telah mengalami penganiayaan fisik sebanyak enam kali dalam kurun waktu dua bulan. Berat badannya merosot drastis hingga 62 kilogram akibat “kelaparan yang disengaja” yang diterapkan oleh pihak administrasi penjara atas arahan Ben-Gvir.

Perhimpunan Tahanan Palestina mendokumentasikan penganiayaan lainnya pada Agustus 2025 ketika Salameh dipindahkan dari Penjara Megiddo di Israel utara ke Penjara Ganot di Israel tengah.

Lembaga tersebut menyebut Salameh dipukuli saat tangan dan kakinya terbelenggu, dengan pukulan yang difokuskan pada bagian kepalanya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button