Indonesia Jangan Diam Saat Azerbaijan Larang Jilbab

Saatnya Indonesia Berperan
Pemerintah Indonesia seharusnya tidak tinggal diam menyaksikan kebijakan diskriminatif pemerintah Azerbaijan tersebut. Indonesia dapat mengambil sejumlah langkah diplomasi yang konkret dan strategis.
Pertama, meminta Azerbaijan memberikan klarifikasi atas dasar hukum dan tujuan perubahan aturan seragam sekolah tersebut. Kedua, mendesak agar kebijakan seragam tidak diterapkan secara diskriminatif terhadap siswa dan guru yang mengenakan jilbab.
Ketiga, mendorong pemulihan akses pendidikan bagi siswa yang terhalang masuk sekolah serta menjamin perlindungan hak bagi para tenaga pengajar. Keempat, meminta agar setiap penanganan terhadap para demonstran dilakukan sesuai dengan prosedur hukum dan standar hak asasi manusia (human rights).
Langkah-langkah tersebut penting jika Indonesia ingin tampil sebagai pemimpin di dunia Islam. Namun jika Indonesia memilih bersikap pasif dan sekadar menjadi pemengekor, maka Indonesia akan terus berdiam diri terhadap berbagai krisis yang menimpa umat Islam di dunia.
Sikap diam tersebut terlihat saat pelarangan jilbab terjadi di Azerbaijan maupun ketika warga di Gaza terus menjadi korban serangan Israel setiap hari. Indonesia bahkan terus melanjutkan hubungan dagang dengan Israel, di saat banyak negara di Eropa justru mengambil langkah tegas memutuskan hubungan ekonomi dengan negara tersebut.
Pada akhirnya, sikap pasif hanya akan membuat Indonesia menjadi negara yang tidak diperhitungkan dalam percaturan politik global. Hal ini menjadi cerminan dari kepemimpinan nasional. Oleh karena itu, momentum Pemilu Presiden 2029 mendatang harus menjadi sarana bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang membawa Indonesia menjadi negara teladan, bukan sekadar pemengekor. Wallahu ‘azizun hakim.[]






