OPINI

Irlandia ‘Kalah’ dari Israel Begitu Mereka Menginjak Lapangan

Oleh: Rebecca O’Keeffe (Mantan Pemain Bola Basket Internasional Irlandia, Mahasiswa Doktoral di Queen’s University Belfast, dan Ketua Irish Sport for Palestine/ISFP)

Selama beberapa bulan terakhir, Irish Sport for Palestine (ISFP), organisasi yang saya ikuti, aktif berkampanye agar Irlandia memboikot pertandingan sepak bola melawan Israel. Kami meyakini bahwa bertanding melawan Israel berarti melegitimasi rezim pelaku genosida serta memberikan perlindungan terhadap pelanggaran hukum internasional, apartheid, dan kejahatan perang.

Pada Ahad (27/9/2026), pertandingan antara kedua tim tetap digelar di sebuah stadion yang nyaris kosong di Hungaria. Terlepas dari hasil akhir 3-0 untuk kemenangan Irlandia, mereka sebenarnya telah kalah saat menginjakkan kaki di lapangan. Mereka kalah karena bertentangan dengan suara mayoritas rakyat Irlandia dan menyerah pada tekanan untuk menormalisasi genosida.

Mayoritas Menolak Pertandingan

Jajak pendapat pada Februari lalu menunjukkan bahwa 76 persen responden tidak menginginkan tim Irlandia bertanding melawan Israel. Dalam survei terhadap para pemain sepak bola profesional di liga putra dan putri Irlandia pada bulan yang sama, 63 persen menyatakan Irlandia seharusnya menolak bertanding.

Semangat masyarakat Irlandia, termasuk dalam ranah olahraga, berakar kuat pada sejarah perlawanan terhadap kolonialisme. Mengapa sepak bola Irlandia justru harus membantu melegitimasi proyek kolonial pemukim?

Salah satu pemain, Gavin Bazunu, menunjukkan semangat tersebut melalui keputusannya yang berani untuk memboikot pertandingan. Namun, alih-alih mengikuti langkah berprinsip tersebut, pimpinan Football Association of Ireland (FAI) justru sengaja menciptakan kebingungan mengenai ancaman sanksi.

FAI juga berusaha menggunakan komunikasi dengan Federasi Sepak Bola Palestina (Palestinian Football Association)—yang sejak lama mendesak FIFA dan UEFA menskors Israel—seolah-olah sebagai bentuk persetujuan tersirat.

Pada akhirnya, alih-alih bertanggung jawab, pimpinan FAI berlindung di balik para pemain dan meminta mereka melakukan pemungutan suara. Para pemain seharusnya tidak pernah ditempatkan dalam posisi dilematis seperti itu.

Tanggung jawab atas keputusan ini sejatinya berada pada FAI, UEFA, dan pemerintah Irlandia. Namun, pada setiap tingkatan, tidak terlihat adanya kepemimpinan yang tegas.

Pada November lalu, sebanyak 93 persen anggota FAI sebenarnya telah memilih untuk mendukung permintaan resmi agar Israel dikeluarkan dari UEFA. Keputusan itu didasarkan pada pelanggaran Israel terkait klub dari pemukiman ilegal dan kebijakan antirasisme.

Lalu, mengapa pimpinan FAI bersikeras agar pertandingan ini tetap berjalan? Mengapa mereka tidak menghormati keinginan anggota FAI dan masyarakat Irlandia? Mengapa mereka tidak berani menentang UEFA sebagaimana pernah dilakukan federasi negara lain?

Israel Kalah, tetapi Menang di Lapangan

Israel kalah dalam pertandingan pada Ahad (27/9/2026), tetapi mereka menang secara politis di lapangan. Mereka memanfaatkan momentum olahraga sebagai sarana propaganda Zionis.

Baca juga: Kenakan Ban Lengan Hitam dan Tolak Jabat Tangan, Irlandia Bantai Israel 3-0

Federasi Sepak Bola Israel tampil dengan perilaku mengintimidasi, para pemainnya melakukan perayaan gaya militer, dan para pendukungnya menyuarakan hinaan rasis. Mereka seolah diberi keleluasaan untuk mengubah arena olahraga menjadi medan pertempuran.

Pertandingan yang berlangsung dengan pengamanan ketat di tempat netral tanpa penonton maupun liputan media yang memadai seharusnya menunjukkan ketidaknormalan situasi ini.

1 2Laman berikutnya
Back to top button