SUARA PEMBACA

Islamofobia dan Muslim Penemu Vaksin Corona Pertama di Eropa

Pada 2008, Sahin dan Tureci mendirikan sebuah perusahaan di bidang bioteknologi bernama BioNTech yang fokus meneliti tentang imunoterapi untuk kanker dan penyakit langka. Ketika terjadi epidemi di Wuhan, China, Sahin memutuskan seluruh peneliti di BioNTech yang sedang fokus meneliti vaksin untuk kanker, beralih untuk mencari vaksin untuk penyakit nCoV yang lebih viral disebut Covid-19. Karena besarnya biaya meneliti vaksin ini maka BioNTech bekerja sama dengan perusahaan farmasi raksasa bernama Pfizer.

Pfizer ini adalah vaksin pertama yang telah melewati uji klinis terakhirnya dengan efektifitas mengagumkan, bahkan hampir tidak ada efek samping. Selain itu hal yang mengagumkan lainnya adalah pembuatan vaksin ini menggunakan teknologi paling canggih saat ini yaitu mRNA (messenger RNA). Berbeda dengan pembuatan vaksin lainnya yang masih menggunakan teknologi kuno yakni dengan melemahkan virus (merusak materi genetiknya).

Yang dilakukan Sahin adalah membaca RNA novel coronavirus sepanjang 3000an RNA dan meneliti RNA mana yang mengandung informasi “mahkota” si virus. Kemudian memotongnya dan potongan RNA inilah yang akan menjadi vaksin. Uji klinis tahap tiga pada 45.000 manusia sidah membuktikan bahwa vaksin mereka sangat efektif untuk mencegah infeksi Covid-19. Dilansir dari CNBC, Sahin menargetkan perusahaannya bisa membuat 300 juta dosis vaksin per April 2021 dan bisa disuntikkan pada musim gugur 2021.

Kejeniusan yang akan menyelamatkan banyak jiwa ini pertama kali ditemukan oleh seorang imigran muslim di Jerman, Eropa. Padahal disana Islamofobia saat ini sedang sengit – sengitnya. Islamofobia layaknya “kanker sosial” yang menjalar di tubuh Uni Eropa.

Hal ini tak lain karena giringan opini umum dari media arus utama atas nama kepentingan politik, khususnya karena partai-partai populis sayap kanan makin maju di benua ini. Mereka meraup lebih banyak suara pemilih dari 10,6 persen pada 1980 menjadi 18,4 persen pada 2017.

Disaat kondisi Islamofobia di Eropa seperti itu, muslimlah yang justru menyelamatkan warga Eropa bahkan dunia. Hal ini seperti menjadi bantahan bagi mereka dengan isu – isu hoaks yang beredar di tengah mereka, yakni muslim itu teroris. Padahal muslim datang ke Eropa pasca Perang Dunia II untuk membantu rekonstruksi Eropa yang hancur akibat perang. Setelah menetap lebih dari tiga generasi di Eropa, warga Muslim menjelma menjadi warga Eropa, tidak lagi memandang dirinya sebagai “imigran”, tetapi “warga negara”. (republika.co.id).

Maka isu Islamofobia sebenarnya tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun, karena faktanya umat Islam bukanlah seperti yang mereka tuduhkan. Hal ini marak terjadi tidak lain karena umat Muhammad tidak punya perisai hakiki yakni negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Wallahu a’lam bissawab.

Ummu Bisyarah

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button