OPINI

Islamophobia Merebak, Umat Islam Terus Tersakiti

Belum genap satu bulan semenjak tragedi mengerikan bagi umat Islam di Selandia Baru terjadi. Kaum Muslimin di seluruh dunia berduka, merasakan empati atas kengerian yang terjadi di sana. Sayangnya, umat Islam di seluruh dunia tidak bisa berbuat banyak selain mengutuk dengan sangat atas kekejian para pelaku teror terhadap kaum Muslimin yang menjadi korban.

Tragedi ini ternyata menyulut Islamophobia di belahan negara lainnya bagai riak-riak air. Pada 21 Maret 2019 lalu, seorang pria merusak empat masjid di Birmingham, Inggris, dalam aksi beruntun pada dini hari (bbc.com, 22/03). Pada 22 Maret 2019, pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan, melakukan aksi pembakaran salinan Al-Quran sebagai bentuk protesnya terhadap Kaum Muslim di Denmark yang melakukan shalat Jumat di depan gedung parlemen. Partai Starm Kurs memang terkenal sebagai partai yang anti-immigran dan anti-Muslim (bbc.com, 23/03).

Islamophobia, ketakutan kepada agama Islam, memang sudah lama merebak di seluruh penjuru dunia. Terutama di dunia bagian Barat yang notabene Muslim adalah kaum minoritas. Semenjak digulirkannya “Global War on Terrorism” oleh Presiden Amerika George W. Bush pasca tragedi World Trade Center (WTC) 11 September 2011, dianggap sebagai awal mula merebaknya virus Islamophobia terbesar.

Tragedi ini membuat perang terhadap terorisme tanpa akhir. Amerika sendiri pasca invasi ke Afghanistan dan Irak telah mengeluarkan biaya mahal untuk perang melawan terorisme. Mereka banyak melibatkan banyak tentara, baik formal maupun sukarela, untuk ditempatkan di negara-negara yang dianggap sebagai sarang teroris. Seiring berjalannya waktu dan perang melawan terorisme, isu Islamophobia pun menyebar ke seluruh penjuru dunia, bahkan ke wilayah negara yang mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Radikalisme dan terorisme kini menjadi musuh bersama. Namun, isu ini selalu membawa Islam, kaum Muslim dan jihad sebagai jubah di balik aksinya. Ujungnya virus islamophobia semakin tersebar. Umat Islam di seluruh dunia pun menjadi korbannya. Kaum Muslimin menjadi korban kekerasan, penindasan, pelecehan, dan penganiayaan baik fisik maupun verbal. Simbol-simbol Islam seringkali dijadikan bukti radikalisme dan terorisme, seperti bendera Rasulullah ar-rayah dan al-liwa (bendera hitam/putih yang bertuliskan kalimat syahadat yang mulia), atau bahkan al-quran kitab suci agama Islam pun tak lepas dari simbol Islam yang dikaitkan dengan radikalisme..

Demokrasi yang membawa ide kebebasan dan HAM pun ternyata tidak pernah memberi ruang segar kepada kaum Muslimin, yang ada justru ia membawa ironi. Islam dan para pemeluknya tidak pernah lepas dari intimidasi hasil virus islamophobia yang disebarkan oleh para pembenci Islam. Sungguh Islamophobia tidak akan pernah reda di era demokrasi. Adakah solusi tuntasnya?

Solusi Semu ala Demokrasi

Islamophobia sudah menjangkiti masyarakat dunia hampir secara keseluruhan, bahkan bagi bangsa Indonesia ini. Istilah islam radikal, ekstrim, intoleran dan fundamental adalah yang paling sering diisukan di dalam negeri, terutama pasca aksi bela Islam 212. Namun sampai saat ini tidak ada solusi satu pun yang bisa menghilangkan virus Islamophobia.

Sebenarnya, sudah banyak tokoh dan organisasi baik lokal maupun internasional mendiskusikan adanya isu islamophobia, seperti OKI (Organisasi Kerjasama Islam) misalnya pada Konferensi Tingkat Menteri (KTM) Darurat dengan tajuk “OIC Open Ended Executive Committee Emergency Ministerial Meeting On The Recent Terrorist Attack Against Two Mosques In New Zealand And Countering Hatred Against Muslims” yang diselenggarakan di Istanbul, Turki pada Jumat 22 Maret 2019 (pantau.com, 23/03).

Namun, hasil dari diskusi internasional seperti ini tidak memunculkan langkah nyata dan konkrit terkait perlindungan terhadap kaum Muslimin di belahan manapun. PBB sebagai organisasi internasional yang katanya melindungi perdamaian dunia pun tidak berkutik. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan kaum Muslim dunia dari diskriminasi dan intimidasi.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

BACA JUGA
Close
Back to top button