Jejak Kejayaan Sains dan Teknologi Masa Peradaban Islam
Oleh: Andrian Permana (Kandidat PhD Teknik Mesin, KFUPM, Arab Saudi)
Kecerdasan buatan, teknologi antariksa, bioteknologi, dan semikonduktor merupakan deretan kosakata yang mewakili wajah kemajuan zaman ini. Seluruh teknologi tersebut lahir dari negeri-negeri yang sejak lama serius membangun ekosistem risetnya.
Sementara itu, tidak sedikit negeri Muslim yang hari ini lebih banyak berperan sebagai konsumen teknologi ketimbang penciptanya. Padahal, sejarah mencatat bahwa umat Islam pernah memimpin dunia sains dan teknologi selama berabad-abad.
Pertanyaan mendasarnya adalah apa yang membuat peradaban Islam mampu mencapai puncak kejayaan tersebut? Apakah hal itu sekadar kebetulan karena lahirnya banyak ilmuwan jenius, atau ada sistem fundamental yang bekerja di baliknya?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat ditelusuri dari rekam jejak sains dan teknologi masa peradaban Islam. Salah satunya sebagaimana didokumentasikan dalam buku TSQ Stories: 50 Kisah Pengembangan Sains dan Teknologi di Masa Peradaban Islam karya Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar.
Dari puluhan kisah dalam buku tersebut, terlihat satu benang merah yang jelas: kemajuan sains dan teknologi Islam bukanlah kebetulan. Capaian tersebut merupakan buah dari peradaban yang secara sungguh-sungguh menjadikan ilmu sebagai pilarnya.
Nama-nama besar seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, atau Al-Jazari tentu tidak asing dalam catatan sejarah. Namun, hal yang lebih menarik untuk direnungkan adalah ekosistem dan lingkungan tempat mereka tumbuh.
Para ilmuwan besar tersebut tidak muncul dari ruang hampa. Mereka tumbuh di tengah masyarakat yang menghormati ilmu, ditopang lembaga pendidikan kokoh, serta didukung pemerintahan yang fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan.
Di sinilah pelajaran paling berharga dapat ditarik. Kejayaan sains dan teknologi bukan semata soal kecerdasan individu, melainkan hasil dari sistem yang berhasil menumbuhkan budaya ilmu.
Ilmu Bukan Sekadar Pelengkap
Dalam pandangan Islam, ilmu menempati kedudukan yang sangat tinggi. Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9).
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu bukanlah pelengkap hidup seorang Muslim, melainkan bagian integral dari akidahnya. Melalui sudut pandang ini, para ilmuwan Muslim terdahulu tidak pernah memisahkan riset ilmiah dari ajaran agama.
Mengkaji alam semesta, mengembangkan teknologi, serta mencari solusi atas persoalan manusia dipahami sebagai bentuk ibadah. Seluruh aktivitas tersebut dijalankan dalam rangka memenuhi tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Dari cara pandang inilah lahir tradisi intelektual yang luar biasa dalam sejarah Islam. Di bawah naungan Khilafah, pusat-pusat keilmuan tumbuh subur di berbagai wilayah.
Baitul Hikmah di Baghdad merupakan contoh nyata dari pusat penerjemahan, riset, dan pengembangan ilmu interdisipliner. Negara turun tangan langsung memfasilitasi para ulama dan ilmuwan agar mereka fokus menghasilkan karya yang bermanfaat.






