John Esposito Ubah Cara Pandang Barat terhadap Islam
Sentimen negatif tersebut diperparah oleh narasi keamanan nasional AS dan Israel mengenai dugaan adanya ancaman Islam setelah era Perang Dingin berakhir. Di tengah polarisasi tersebut, John hadir sebagai akademisi awal yang berani menantang distorsi orientalis atas Islam dan Muslim.
Karya-karya ilmiahnya berhasil membuka ruang bagi pemahaman objektif guna mengikis prasangka buruk. Wawasan intelektualnya juga membuka jalan bagi generasi akademisi yang lebih muda untuk membangun dan memperluas penelitian kepeloporannya.
Profesor Esposito memajukan pemahaman baru tentang agama dengan mengkritik teori ilmu sosial yang dominan mengenai pembangunan politik. Ia dengan jeli menyoroti adanya “bias sekuler” yang memengaruhi perdebatan intelektual arus utama di Barat terkait hubungan agama dan politik.
Teori-teori modernisasi tersebut diklaim berlaku universal berdasarkan asumsi bahwa agama hanyalah peninggalan masa lalu yang tidak lagi penting di dunia modern. Padahal secara faktual, klaim tersebut bias ideologis dan hanya bersandar pada rangkaian pengalaman domestik Barat semata.
Sebaliknya, John menafsirkan politik dunia Muslim bukan dari kerangka normatif Barat, melainkan dari sudut pandang pengalaman dunia Muslim itu sendiri. Dengan kata lain, ia melihatnya dari bawah ke atas melalui perspektif massa yang memegang teguh identitas keagamaan mereka.
Melalui pendekatan ini, ia berhasil mengajukan analisis politik keagamaan yang kuat secara sosiologis dan memiliki dasar sejarah di dunia Islam. Kritik terhadap warisan kolonialisme, otoritarianisme, dan kebijakan luar negeri AS menjadi tema sentral dari seluruh kerja intelektualnya.
Karya Profesor Esposito dalam membedah Islam politik terhitung sangat visioner. Ia menulis tentang kondisi sosial dan aspirasi kolektif yang membuat Islam politik menjadi sangat memikat bagi berbagai konstituen di Timur Tengah dan dunia Muslim yang lebih luas.
Ketika mayoritas akademisi Barat dan intelektual liberal berfokus pada keinginan kelompok Islamis untuk menerapkan syariat, Esposito memilih fokus pada inti aspirasinya. Ia melihat adanya perjuangan martabat, keadilan, menentukan nasib sendiri, serta perlawanan terhadap dominasi asing.
Aspirasi mendasar inilah yang pada akhirnya membuat Islam politik menjadi sebuah kekuatan yang tangguh dan bertahan lama. Saat merefleksikan warisan John Esposito, penulis teringat akan sebuah pengamatan penting dari Edmund Burke III.
Saat mengomentari karya mendiang Marshall G.S. Hodgson yang berjudul The Venture of Islam, Burke mencatat bahwa Hodgson memiliki prinsip yang sama dengan Esposito. Keduanya menolak untuk melihat Islam sebagai “liyan” atau pihak luar yang asing.
Sebaliknya, mereka memahami tradisi Islam sebagai sebuah usaha bersama yang menandai upaya manusia dalam mewujudkan dunia yang adil dan bermoral. Kita kemungkinan tidak akan melihat lagi akademisi dengan kaliber moral dan intelektual setinggi John Esposito di masa hidup kita.
Dampaknya terhadap edukasi kolektif kita serta pemahaman hubungan Islam-Barat sangat unik dan tidak terukur. Mereka yang peduli pada nilai-nilai universal yang berakar pada hukum internasional, HAM, demokrasi, dan pemahaman lintas budaya sangat berutang budi kepadanya.
John Esposito meninggalkan seorang istri yang telah menemaninya selama 61 tahun, Jean Esposito. Sang istri merupakan mitra sekaligus pendukung utama dalam seluruh ikhtiar dan cinta abadi dalam hidup John. []
Sumber: Al Jazeera






