Tiga Muslim Syahid Menghadang Aksi Teror di Islamic Center San Diego
California (Suaraislam.id) – Otoritas di Islamic Center of San Diego telah mengonfirmasi identitas dua pria yang gugur dalam insiden penembakan brutal di masjid tersebut pada Senin (18/05/2026), menyusul pengumuman pihak keluarga yang sebelumnya telah mengidentifikasi Amin Abdullah sebagai penjaga keamanan yang tewas saat mencoba mencegah para pelaku teror merangsek masuk kompleks rumah ibadah.
Pihak pengelola masjid menegaskan kepada Al Jazeera bahwa dua korban lainnya juga memainkan peran yang sangat krusial dalam melakukan perlawanan menghadapi para pelaku teror demi melindungi jemaah.
“Kami menyebut mereka sebagai saudara-saudara kami di komunitas ini, kami menyebut mereka sebagai syuhada dan pahlawan kami,” ujar imam masjid tersebut, Taha Hassane, dengan nada tegas dan penuh rasa hormat.
Dua penyerang remaja melepaskan tembakan secara membabi buta di masjid San Diego tersebut saat petugas kepolisian sebenarnya tengah memburu salah satu pelaku, setelah ibunya melapor ke polisi karena khawatir anaknya yang berniat bunuh diri telah melarikan diri dari rumah membawa senjata.
Kedua pelaku bersenjata tersebut akhirnya ditemukan tewas mengenaskan akibat luka tembak bunuh diri di dalam kendaraan mereka, sementara pihak kepolisian terus mengusut tuntas serangan biadab ini sebagai kejahatan kebencian (hate crime).
Berikut adalah profil mendalam para syuhada yang gugur dalam serangan teror tersebut:
Mansour Kaziha
Kaziha, seorang sesepuh berusia 78 tahun yang akrab disapa Abu Ezz, merupakan staf senior yang telah lama mengabdi di masjid tersebut dan sempat menelepon polisi sesaat sebelum dirinya ditembak mati pelaku, kata Ketua Dewan Direksi Masjid, Ahmed Shabaik, kepada Al Jazeera.
Ahmed Shabaik menambahkan bahwa almarhum yang berasal dari Suriah tersebut meninggalkan seorang istri dan lima anak yang kini telah dewasa, serta mengenangnya sebagai pilar utama sekaligus fondasi kokoh dari masjid ini.
Shabaik juga menjelaskan bahwa Kaziha telah mendedikasikan hidupnya untuk memakmurkan masjid tersebut sejak awal pembangunannya pada dekade 1980-an.
“Dia melakukan segalanya di masjid, menangani semua kebutuhan sehari-hari, dia juga mengelola toko perlengkapan ibadah di dalam masjid dan menjadi sosok utama di balik semua urusan memasak selama bulan Ramadan untuk hidangan buka puasa serta menyediakan makanan sahur,” ungkap Shabaik mengenang dedikasi almarhum.
Yasser Kaziha, putra dari Mansour Kaziha, menggambarkan sosok ayahnya bukan hanya sekadar pilar bagi komunitas Muslim setempat, melainkan juga pilar utama dalam rumah tangga mereka.
“Beliau mengajarkan kami untuk siap menghadapi segala kesulitan dan terus berjuang melewatinya demi memenuhi tujuan hidup kami masing-masing, persis seperti yang telah beliau contohkan semasa hidupnya,” tutur Yasser Kaziha dalam acara doa bersama pada Selasa malam (19/05/2026).






