RESONANSI

Ketika Air Menggenang, Nurani Menyala

Ketika Solidaritas Mengalir Bersama Air

Meskipun demikian, agama bukan hanya hadir untuk menegur. Ia juga menjadi sandaran emosional yang paling kokoh ketika manusia jatuh pada titik terendah. Banyak penelitian pasca-bencana Aceh menunjukkan bahwa keyakinan religius membantu para penyintas mengatasi trauma. Doa, zikir, kebersamaan, dan solidaritas terbukti mempercepat pemulihan batin.

Fenomena ini kembali terlihat dalam bencana banjir kali ini. Bantuan datang bukan hanya dari lembaga pemerintah, tetapi juga dari pesantren, gereja, organisasi zakat, komunitas lintas iman.

Dari kantong-kantong masyarakat kecil terkumpul sedekah yang kadang lebih tulus dibanding sumbangan institusi besar. Di mushala yang terendam air, anak-anak tetap belajar mengaji di lantai panggung. Di gereja-gereja yang belum terendam, ruang ibadah berubah menjadi posko darurat.

Inilah wajah religiusitas Indonesia yang sering terlupa: bukan sekadar soal doktrin, tetapi soal empati dan gerak manusia.

Pelajaran Besar dari Genangan

Dengan segala refleksi itu, banjir Sumatra kali ini semestinya menjadi titik balik. Narasi kuno tentang Air Bah tak lagi bisa dibaca secara harfiah. Ia harus menjadi inspirasi moral: bahwa ketika manusia membiarkan ketidakadilan ekologis terjadi, alam pun meminta bagian.

Dalam situasi seperti ini, agama dapat memainkan tiga fungsi sekaligus. Pertama, memberi makna spiritual bagi penderitaan—bahwa setiap ujian membawa peluang untuk memperbaiki diri. Kedua, mendorong solidaritas sosial—karena menolong sesama adalah kewajiban moral lintas agama. Ketiga, membangkitkan kesadaran ekologis—bahwa menjaga hutan, sungai, dan gunung adalah bagian dari ibadah.

Jika tiga fungsi itu bekerja serentak, tragedi banjir bukan hanya meninggalkan luka, tetapi juga pelajaran. Banjir mungkin merendam rumah dan sawah, tetapi ia tak mampu menenggelamkan kesadaran manusia yang bersedia belajar dari masa lalu—baik dari teks kuno maupun dari penderitaan hari ini.

Ketika air menggenang, nurani menyala. Dan di sanalah masa depan Sumatra, dan masa depan kita, sesungguhnya sedang ditulis.[]

Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button