OASE

Ketika Dunia Kehilangan Kompas, Islam Datang Membawa Arah

Oleh: Fatmah Ramadhani, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Hari ini kita berada pada zaman ketika manusia merasa telah menemukan hampir segala sesuatu. Teknologi berkembang pesat dan ilmu pengetahuan melompat jauh.

Seluruh informasi berada dalam genggaman, hingga dunia yang luas semakin mudah terhubung layaknya desa kecil. Manusia bahkan mampu mengirim mesin ke luar angkasa hingga menciptakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dapat meniru kemampuan berpikir manusia.

Namun, ada satu pertanyaan yang semakin sulit dijawab: untuk apa semua kemajuan itu jika manusia justru semakin kehilangan arah? Kita hidup di tengah peradaban yang mampu mempercepat hampir segala sesuatu, tetapi tidak selalu tahu ke mana arah harus berjalan.

Kekayaan bertambah, tetapi kesenjangan tetap ada. Pilihan hidup semakin banyak, tetapi manusia justru semakin bingung menentukan makna hidup.

Kebebasan semakin diagungkan, tetapi tidak sedikit manusia yang kehilangan pijakan moral. Kesuksesan diukur dengan materi, popularitas, jabatan, penampilan, serta kemampuan menguasai sumber daya.

Akhirnya, manusia menghadapi paradoks besar. Semakin banyak yang dimiliki, semakin sulit menjawab siapa dirinya dan untuk apa ia hidup.

Di sinilah persoalan peradaban modern sesungguhnya bermula. Masalah ini bukan sekadar persoalan teknologi atau ekonomi, melainkan persoalan kompas moral ketika materi menjadi ukuran utama kehidupan.

Materialisme menjadikan sesuatu yang dapat dilihat, dihitung, dimiliki, dan dipertukarkan sebagai tolok ukur keberhasilan. Manusia akhirnya mudah dipandang dari apa yang ia miliki, bukan dari siapa dirinya di hadapan Allah Swt.

Rumah menjadi simbol keberhasilan, kendaraan menjadi ukuran status, dan pendidikan menjadi alat menaikkan kelas sosial. Bahkan, kehidupan keluarga pun dapat berubah menjadi arena kompetisi untuk saling mengungguli kekayaan, popularitas, dan tren.

Dalam situasi seperti ini, manusia perlahan kehilangan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah hidup ini hanya tentang mendapatkan lebih banyak hal duniawi?

Islam datang membawa jawaban yang berbeda. Manusia bukan makhluk yang hidup tanpa tujuan, melainkan seorang hamba Allah Swt.

Kehidupan dunia baginya bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat. Oleh karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan cara memperoleh harta, tetapi juga bagaimana harta itu didapatkan secara halal dan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Islam tidak hanya berbicara tentang kebebasan, tetapi juga tanggung jawab; tidak hanya berbicara tentang hak, tetapi juga kewajiban; serta tidak hanya berbicara tentang keberhasilan individu, melainkan juga keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Islam mengembalikan manusia kepada pertanyaan paling fundamental: siapa yang menciptakan kita, untuk apa kita hidup, dan kepada siapa seluruh kehidupan ini akan dipertanggungjawabkan?

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button