Ketika Dunia Kehilangan Kompas, Islam Datang Membawa Arah
Tidak cukup mengagumi perjuangannya, kita perlu memahami arah perjuangannya. Tidak cukup mencintai pribadinya, kita perlu mencintai wahyu yang beliau bawa.
Dunia yang sedang kehilangan arah tidak membutuhkan umat yang hanya pandai mengagungkan simbol-simbol Islam. Dunia membutuhkan umat yang memahami Islam, menghidupkannya, dan menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.
Dunia yang Gelap
Dunia hari ini tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan arah; tidak kekurangan suara, tetapi kekurangan suara yang berakar pada kebenaran. Dunia tidak kekurangan orang pintar, melainkan membutuhkan manusia yang menggunakan kepintarannya dengan rasa takut kepada Allah Swt.
Di tengah kegelapan nilai tersebut, umat Islam memiliki amanah luar biasa untuk menjaga wahyu agar tidak sekadar menjadi bacaan, melainkan menjadi petunjuk kehidupan.
Mengenalkan kembali Nabi Muhammad saw. harus dilakukan dengan menghadirkan akhlaknya, bukan hanya melalui perayaan. Mengajak mencintai Rasulullah saw. harus diwujudkan dengan mengikuti teladannya, serta membela Islam dengan ilmu, keberanian, akhlak, dan kebenaran.
Ketika dunia kehilangan kompas, umat Islam tidak boleh ikut kehilangan arah. Kita memiliki Al-Qur’an sebagai petunjuk, sunah Rasulullah saw. sebagai pedoman, serta warisan ilmu dan tanggung jawab untuk menyampaikannya secara bijak (hikmah) kepada generasi selanjutnya.
Dunia hari ini mungkin sedang mengalami kegelapan nilai. Tugas kita bukanlah ikut menjadi gelap, melainkan menjadi pembawa cahaya wahyu—cahaya yang mengembalikan manusia kepada Penciptanya, mengembalikan kehidupan kepada tujuan penciptaan untuk menghamba kepada Allah Swt. Rabb semesta alam, serta mengembalikan manusia pada kemuliaan yang hakiki.[]






