OASE

Ketika Dunia Kehilangan Kompas, Islam Datang Membawa Arah

Nabi Muhammad saw. dan Revolusi Manusia

Lebih dari 14 abad lalu, masyarakat Arab juga menghadapi krisis. Krisis tersebut bukan karena mereka tidak memiliki kebudayaan, sebab mereka memiliki bahasa, perdagangan, tradisi, keberanian, dan struktur sosial.

Namun, mereka mengalami persoalan mendasar dalam orientasi hidup. Di tengah masyarakat tersebut, Nabi Muhammad saw. hadir membawa risalah tauhid.

Beliau tidak datang sekadar membawa ritual baru. Risalah kenabian yang beliau bawa mengubah cara manusia memandang dirinya, Tuhannya, sesamanya, harta, kekuasaan, keluarga, dan kehidupan.

Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad saw. dikenal sebagai al-Amin (orang yang dipercaya) bahkan sebelum masa kenabian. Sumber biografis (sirah) menggambarkan perjalanan hidup seorang manusia yang mengalami kehilangan dan kesulitan sejak kecil sebelum menjadi pembawa risalah Islam.

Oleh karena itu, risalah beliau bukan sekadar teori di ruang kelas, melainkan menjelma dalam kehidupan nyata. Dari Makkah hingga Madinah, Islam membentuk manusia yang memiliki keyakinan, akhlak, solidaritas, tanggung jawab, dan orientasi akhirat.

Al-Qur’an menempatkan Rasulullah saw. sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi orang-orang yang berharap kepada Allah Swt. dan hari akhir. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Pada titik ini, kita menemukan hal yang sangat penting. Islam tidak menawarkan sekadar seperangkat gagasan, melainkan menghadirkan teladan manusia yang hidup berdasarkan wahyu, yaitu Nabi Muhammad saw.

Mencintai Nabi Bukan Sekadar Mengagumi Nama

Hari ini kita sering menyatakan cinta kepada Rasulullah saw. Wujud cinta itu kita ekspresikan dengan bersalawat, menyelenggarakan peringatan maulid, serta membaca lembar demi lembar Sirah Nabawiyah.

Semua itu merupakan bentuk kecintaan yang indah. Namun, kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. tidak boleh berhenti pada kekaguman emosional semata.

Mencintai Nabi Muhammad saw. berarti berusaha memahami alasan beliau diutus dan bagaimana beliau menjalankan risalahnya. Jika benar-benar mencintai beliau, kita akan bertanya tentang apa yang beliau perjuangkan, nilai apa yang beliau tanamkan, serta bagaimana beliau membangun masyarakat dan mengubah manusia dari keterpecahan menjadi umat yang memiliki visi.

Al-Qur’an menyebut Rasulullah saw. sebagai teladan. Artinya, kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. seharusnya melahirkan transformasi personal dan sosial.

Rasa cinta hendaknya melahirkan keteladanan, dari keteladanan lahir perubahan pribadi, dan dari perubahan pribadi lahirlah perubahan masyarakat. Kita tidak cukup hanya mengenal nama Nabi Muhammad saw., tetapi perlu memahami risalahnya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button