MUHASABAH

Ketika Shalat Kehilangan Daya Ubah

Semakin baik kualitas shalat seseorang, semakin kuat benteng moral yang dibangunnya. Sebaliknya, semakin lalai, tergesa-gesa, dan tanpa penghayatan, semakin kecil pula pengaruh shalat terhadap perilakunya.

Karena itu, dua orang yang berdiri dalam satu shaf dapat menghasilkan buah yang sangat berbeda. Yang satu keluar dari masjid dengan hati yang lembut, lisan yang terjaga, dan tangan yang enggan berbuat zalim. Yang lain keluar dari masjid, tetapi masih mudah marah, curang dalam berdagang, menyalahgunakan jabatan, atau merampas hak orang lain.

Shalat yang pertama telah menjadi kekuatan transformasi. Shalat yang kedua baru sebatas rutinitas fisik.

Di sinilah letak ironi kehidupan beragama kita. Masjid semakin megah, jumlah jamaah semakin banyak, tetapi korupsi, penyalahgunaan amanah, fitnah, kekerasan, dan berbagai bentuk kemungkaran sosial tetap marak terjadi. Fenomena ini bukan alasan untuk meragukan efektivitas shalat, melainkan menjadi cermin bahwa persoalan kita bukan pada kuantitas shalat, melainkan pada kualitas shalat.

Shalat yang Diterima Meninggalkan Jejak Akhlak

Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan yang sangat keras: “Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4-6).

Ayat ini tidak mengatakan “celakalah orang yang tidak shalat”, melainkan memperingatkan orang yang shalat tetapi melaksanakannya tanpa kesadaran, tanpa keikhlasan, dan tanpa menghadirkan Allah dalam hatinya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan shalat bukan hanya sah atau tidak sah secara fikih, melainkan sejauh mana shalat itu membentuk karakter pelakunya.

Karena itu, setiap selesai shalat, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi, “Sudahkah saya shalat?” atau “Apakah shalat saya sah?”

Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah, “Apakah shalat saya hari ini membuat saya menjadi manusia yang lebih jujur, lebih amanah, lebih sabar, dan lebih takut berbuat zalim dibandingkan sebelum saya mengangkat takbir ?” Sebab, shalat yang diterima bukan hanya menorehkan catatan pahala di langit, tetapi juga meninggalkan jejak akhlak di bumi. Wallahu’alam.

E. Saiful Hidayat
Penulis lepas, pemerhati sosial dan kebijakan publik

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button