OPINI

Krisis Rohingya: Bagaimana Respons Kaum Muslimin yang Seharusnya?

Kedatangan pengungsi Rohingya ke Indonesia yang sedang menuai perbincangan akhir-akhir ini rupanya bukanlah polemik baru. Para pengungsi Rohingya mulai bermigrasi ke Indonesia pertama kali pada 2009 di Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah pengungsi semakin banyak hingga mendapat banyak penolakan di tempat pengungsian.

Dari kasus ini timbul banyak pertanyaan, siapakah sebenarnya etnis Rohingya, dan apa yang terjadi di Myanmar hingga mereka terpaksa harus mengungsi, lalu apakah yang dapat kita lakukan sebagai muslim terhadap saudara kita di Rohingya?

Islam Pernah Berjaya di Myanmar

Untuk memahami akar permasalahan yang melanda etnis Rohingya, kita dapat merujuk pada sejarah masuknya Islam di negara bagian Rakhine, Myanmar. Masuknya agama Islam di Myanmar dibawa oleh pedagang Arab pada 1050 M.

Seiring dengan perkembangannya, terbentuklah sebuah kerajaan Mrauk U yang dipimpin oleh Suleyman Shah. Kerajaan ini berhasil berdiri selama 30 tahun (1430 – 1784 M).

Pada masa kekuasaannya, Islam mencapai puncak keemasan di Burma (Myanmar). Perekonomian berkembang pesat, kemajuan dalam bisnis, lahan pertanian dan bangunan berhasil dikelola dengan baik oleh Islam.

Penyebaran dakwah Islam pun merambah secara luas. Islam juga menguasai sebagian besar aset properti pada Ibukota Yangon.

Namun setelah itu, pada 1784 M, terjadi invasi kekaisaran Burma yang menyebabkan Kerajaan Mark U runtuh. Mereka menganggap Islam sebagai ancaman dan segala hal yang berbau Islam mulai dihilangkan. Sehingga, Budha-lah yang berhasil menguasai Myanmar pada saat itu.

Setelah itu, keadaan berubah drastis ketika Inggris menjajah Myanmar dan banyak migrasi buruh yang berasal dari Bangladesh dan India, dan hal ini cukup dipandang buruk bagi masyarakat Myanmar.

Setelah merdeka dari Inggris, muncul partai Thakin yang mengusung ide nasionalisme yang sejalan dengan kampanye anti-Islam dan anti-India. Mereka berpandangan bahwa dengan menumbuhkan sikap nasionalisme tadi, partai Thakin akan lebih mudah berkuasa.

Ide nasionalisme inilah yang memupuk kebencian masyarakat Myanmar terhadap etnis Rohingya karena beranggapan bahwa mereka berbeda secara fisik, budaya, dan bahasa.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button