LAPSUS

Lima Tahun Tanpa Pembinaan, Ustaz Awi Hadir di Pedalaman Tanpa Listrik dan Jaringan

Meski demikian, anak-anak tersebut sangat bersemangat datang ke sekolah. Setiap hari mereka berjalan kaki, ada yang menempuh jarak lebih dari satu jam tanpa menggunakan sepatu atau alas kaki.

Anak-anak itu tidak hanya belajar, tetapi juga keluar masuk hutan sepulang sekolah untuk mencari damar.

Belajar Mengaji di Temaram Malam

Meski kelelahan sepulang dari hutan, anak-anak pedalaman tersebut tetap hadir mengaji selepas Magrib bersama Ustaz Awi.

Diterangi lampu LED atau lampu darurat portabel, mereka mengeja huruf demi huruf di papan tulis kapur.

Dusun yang tadinya sunyi tersebut perlahan hidup sejak kehadiran Ustaz Awi. Suara lantunan doa dari musala kecil di tengah hutan terpencil mengisi malam-malam hening Dusun Nunusan.

Perjalanan dakwah menuntut seorang dai untuk bisa melakukan apa saja yang masyarakat butuhkan. Bukan hanya mengisi rohani mereka, tapi juga siap sedia hadir dalam keseharian mereka.

Terlebih, pengabdian di dusun terpencil yang sangat jauh dari dunia luar membutuhkan penyesuaian diri yang luar biasa.

Selain turut membantu masyarakat mencari hasil alam dengan menyusuri hutan, Ustaz Awi juga membaur dalam berbagai kegiatan mereka: membantu memperbaiki jalan, panen jengkol dan petai, hingga memberikan layanan cukur gratis kepada penduduk pedalaman tersebut.

Satu per satu anak ia cukur dengan telaten. Tak hanya anak-anak, pria dewasa pun turut meminta untuk dicukur oleh Ustaz Awi. [ ]

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button