IBRAH

Makna Zuhud dalam Islam

Oleh: Ayu Mela Yulianti, S.Pt. (Pegiat Literasi dan Pemerhati Kebijakan Publik)

Zuhud berarti memperlakukan dunia sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt. Zuhud bukan berarti menyengsarakan diri serta mengabaikan hak tubuh untuk dipenuhi.

Zuhud juga bukan berarti mengabaikan dunia hingga kehidupan menjadi sengsara. Dalam faktanya, Rasulullah saw. telah memberikan teladan yang sangat baik tentang bagaimana cara hidup zuhud yang sebenarnya.

Rasulullah saw. menjadi contoh paling sempurna dalam memperlakukan perhiasan serta kenikmatan dunia secara tepat.

Beliau sangat sederhana dalam makan dan minum, bahkan sering kali menahan lapar. Namun, pada saat yang sama, Rasulullah saw. sanggup menyiapkan perlengkapan dan kendaraan terbaik untuk menegakkan syariat jihad di medan perang.

Rasulullah saw. sering berpuasa, makan secukupnya, dan jarang menyimpan stok makanan untuk esok hari. Kendati demikian, beliau tetap mampu memberikan sedekah terbaik serta memberikan hadiah kepada para duta kabilah yang datang untuk masuk Islam.

Demikianlah realitas kehidupan zuhud Baginda Rasulullah saw. sebagai uswah hasanah yang sempurna bagi seluruh umat manusia.

Zuhud ala Rasulullah saw. tidak berarti meninggalkan kesenangan duniawi. Zuhud beliau adalah sikap tidak rakus terhadap dunia serta memperlakukan kenikmatannya sesuai dengan aturan Allah Swt.

Rasulullah saw. menikah, bersenda gurau dengan para istrinya, dan bermain untuk melepas penat dalam kehidupan keluarga. Dari sikap ini, keluarga beliau merasakan pengurusan dan kasih sayang yang sangat baik.

Pada saat yang sama, Rasulullah saw. mengajak anak dan istrinya untuk taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah Swt.) melalui ibadah wajib maupun sunah.

Rasulullah saw. menangis dalam shalatnya, sebuah hal yang juga dilakukan oleh para istri dan sahabat beliau untuk senantiasa memohon ampunan kepada Allah Swt.

Di samping itu, Rasulullah saw. tetap menjalankan aktivitas kenegaraan dengan mengirimkan surat ajakan masuk Islam kepada para pemimpin dunia melalui para duta besar. Beliau juga menyebarkan intelijen di perbatasan untuk mengamati aktivitas negara atau kabilah yang memusuhi Madinah.

Zuhud Rasulullah saw. bermakna meletakkan dunia sebatas di genggaman tangan, bukan di dalam hati. Oleh karena itu, beliau pernah memberikan 100 ekor unta serta banyak dinar dan dirham untuk mengikat hati Abu Sufyan sebagai mualaf pada peristiwa di Lembah Ji’ranah setelah Perang Hunain.

Prinsip zuhud membuat Rasulullah saw. dan para sahabat tidak disibukkan oleh urusan mengumpulkan harta demi kesenangan dunia semata. Hal ini kemudian diikuti oleh para sahabat besar, utamanya kelompok assabiqunal awwalun.

Salah satunya adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah r.a. yang hanya memiliki sebuah pedang dan perisai di rumahnya, hingga membuat Umar bin Khattab r.a. menangis saat mengunjunginya di tanah Syam. Padahal, Abu Ubaidah adalah amirul jihad yang berhasil menaklukkan tanah Syam dari Kekaisaran Romawi.

Para sahabat tidak disibukkan oleh perhiasan dunia, melainkan mampu mempersembahkan harta tersebut untuk kejayaan Islam. Sangat wajar jika kehidupan zuhud kaum muslimin saat itu menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Sikap zuhud ini juga dicontoh oleh Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. yang berhasil menaklukkan Kekaisaran Persia dalam Perang Qadisiyah dan mendirikan Kota Kufah. Walaupun menaklukkan Istana Putih Persia yang bergelimang harta, ia tetap hidup sederhana dan tidak tersilaukan oleh kemewahan.

Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. menggunakan kenikmatan dunia untuk kemuliaan Islam dengan mendirikan Kota Kufah atas perintah Khalifah Umar bin Khattab r.a. Ia juga melanjutkannya dengan menyebarkan syiar Islam hingga ke negeri Tiongkok pada tahun 651 M.

Prinsip meletakkan dunia di genggaman tangan dan bukan di dalam hati inilah yang berhasil mengantarkan Islam hingga ke negeri Tiongkok. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Al-Qashash ayat 77:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْك وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash: 77)

Demikianlah fakta kehidupan zuhud Rasulullah saw. dan para sahabat. Semoga kita mampu meneladani sikap mulia ini. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Back to top button