IBRAH

Penyesalan Seorang Zahid di Ambang Kematian

Menjelang akhir hidupnya, seorang sahabat Nabi yang dikenal saleh dan zuhud mengucapkan kalimat yang membuat orang-orang di sekitarnya tertegun. Suaranya lemah, tubuhnya sudah berada di ambang kematian. Namun dari bibirnya keluar tiga kalimat pendek yang terdengar seperti penyesalan: “Mengapa tidak lebih jauh? Mengapa tidak semua? Mengapa tidak yang baru?”

Orang-orang yang mendengarnya kebingungan. Sahabat ini bukan orang biasa. Ia dikenal rajin salat berjamaah, ringan tangan membantu orang lain, dan hidup sederhana. Jika orang seperti dia masih merasa kurang, lalu bagaimana dengan manusia kebanyakan?

Kisah ini beredar luas dalam berbagai majelis pengajian dan literatur kisah-kisah zuhud. Dalam beberapa versi cerita, setelah sahabat tersebut wafat, para sahabat lain bertanya kepada Nabi Muhammad tentang makna kalimat yang diucapkannya saat sakaratul maut. Penjelasan Nabi—dalam kisah yang dituturkan para penceramah—mengungkap tiga peristiwa kecil dalam hidup sahabat itu yang ternyata memiliki nilai besar di sisi Tuhan.

Langkah-Langkah Menuju Masjid

Kalimat pertama yang diucapkannya adalah, “Mengapa tidak lebih jauh?”

Dalam cerita yang sering disampaikan, sahabat tersebut diperlihatkan pahala dari langkah-langkahnya berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Setiap langkahnya ternyata memiliki nilai di sisi Allah. Ketika pahala itu diperlihatkan, ia menyesal. Seandainya rumahnya lebih jauh dari masjid, ia akan menempuh langkah lebih banyak, dan pahala yang didapat pun akan lebih besar.

Penyesalan itu terdengar aneh jika dilihat dari sudut pandang manusia biasa. Orang lazimnya ingin rumahnya dekat dengan tempat ibadah agar lebih mudah beribadah. Namun dalam perspektif akhirat yang diperlihatkan kepadanya, setiap langkah ternyata menjadi catatan amal yang berharga.

Gagasan tentang pahala langkah menuju masjid bukanlah cerita tanpa dasar. Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Nabi Muhammad bersabda bahwa seseorang yang berjalan menuju masjid untuk salat akan mendapatkan dua hal dalam setiap langkahnya: satu langkah menghapus dosa, dan langkah berikutnya mengangkat derajatnya di sisi Allah. Hadis lain dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahkan menyebutkan bahwa orang yang paling besar pahalanya dalam salat adalah mereka yang paling jauh jaraknya berjalan menuju masjid.

Di sinilah kalimat “mengapa tidak lebih jauh” menemukan maknanya. Ia bukan keluhan, melainkan kesadaran bahwa sesuatu yang tampak kecil—langkah kaki menuju masjid—ternyata bernilai sangat besar dalam timbangan amal.

Sepotong Roti untuk Pengemis

Kalimat kedua yang diucapkan sahabat itu adalah, “Mengapa tidak semua?”

Dalam versi kisah yang beredar, ia diperlihatkan kembali satu peristiwa dalam hidupnya. Pada suatu hari ia hanya memiliki sedikit makanan untuk dirinya. Ketika seorang pengemis kelaparan datang meminta, ia membagi makanan itu menjadi dua. Setengah untuk dirinya, setengah untuk si pengemis.

Secara manusiawi, tindakan itu sudah sangat baik. Memberi ketika diri sendiri sedang kekurangan bukan perkara mudah. Tetapi ketika pahala amal itu diperlihatkan kepadanya menjelang kematian, sahabat tersebut justru menyesal. Ia berkata, “Mengapa tidak semua?”

Seandainya ia memberikan seluruh makanannya kepada pengemis itu, pikirnya, mungkin balasan yang ia terima akan lebih besar lagi.

1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button