Menghidupkan Thalabul ‘Ilmi
Keutamaan Menuntut Ilmu
Rasulullah saw. menyambut hangat Shafwan al-Muradi saat ia sengaja datang ke Masjid Nabawi untuk menuntut ilmu dari beliau. Rasulullah saw. memberikan kabar gembira bahwa para malaikat mendoakan para penuntut ilmu sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan.
Dalam hadis lain, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa majelis ilmu merupakan taman-taman surga. Di dalamnya dibacakan dan dipelajari ayat-ayat Allah Swt. yang mendatangkan ketenangan (sakinah), rahmat, serta rida-Nya.
Barang siapa mendatangi majelis ilmu, pada hakikatnya Allah Swt. menghendaki kebaikan padanya dan memberikan jalan pintas menuju surga. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan jadikan dia paham tentang agamanya. (H.R. Bukhari dan Muslim).
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. (H.R. Muslim).
Dengan memiliki ilmu, amalan ibadah seorang hamba akan bernilai pahala berlipat ganda di sisi Allah Swt. Pintu-pintu kebaikan pun akan terbuka baginya.
Penuntut ilmu memahami amalan yang diridai atau dimurkai Allah Swt. dengan mengikatkan diri pada syariat-Nya secara kafah. Ia mampu menentukan prioritas amal saleh dan bersikap bijak dalam menghadapi masalah kehidupan.
Menuntut ilmu juga dapat mendatangkan amal jariyah ketika ilmu tersebut disampaikan kepada orang lain dan memberikan manfaat. Tidak ada balasan terbaik bagi orang yang mengajarkan kebaikan melainkan surga dengan derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda:
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi, bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. (H.R. At-Tirmidzi).
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَالَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh. (H.R. Muslim).
مَنْ جَاءَهُ الْمَوْتُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ فَبَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّينَ دَرَجَةٌ وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ
Barang siapa mati dalam keadaan mencari ilmu untuk menghidupkan Islam, maka di surga antara dirinya dengan para nabi hanya satu derajat. (H.R. Ad-Darimi).
Wallahu a’lam bish-shawab.[]






