Ketika Cinta kepada Rasulullah Saw Harus Dibuktikan dengan Ittiba

Rabiul Awal kembali hadir. Di berbagai tempat, shalawat kembali dilantunkan, majelis ilmu digelar, kisah Rasulullah Saw dibacakan, dan nama beliau kembali ramai disebut. Ada kehangatan yang terasa setiap kali umat Islam berbicara tentang manusia yang paling mulia itu. Namun, di tengah semarak tersebut, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: apakah Maulid hanya membuat kita lebih sering menyebut nama Rasulullah Saw, atau benar-benar membuat kita semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti beliau?
Pertanyaan ini penting, sebab cinta kepada Rasulullah Saw tidak semestinya berhenti pada seremoni. Kita boleh memperbanyak shalawat, menghadiri majelis, mendengarkan sirah, dan mengekspresikan kecintaan kepada beliau. Semua itu merupakan kebaikan. Tetapi cinta dalam Islam bukan sekadar perasaan dan ucapan. Cinta memiliki konsekuensi: ketaatan dan ittiba.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al ‘Imran ayat 31, “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian…” Ayat ini seolah mengingatkan kita bahwa cinta membutuhkan bukti. Maka, jika kita mengaku mencintai Rasulullah Saw, pertanyaannya bukan hanya seberapa sering kita mengucapkan shalawat, tetapi seberapa jauh kehidupan kita berusaha mengikuti beliau.
Barangkali di sinilah rabiul Awal perlu kita maknai lebih dalam. Maulid bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah Saw melainkan kesempatan untuk kembali mengenal sosok beliau secara utuh. Sebab bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai, sementara yang dicintainya tidak benar-benar ia kenal?
Kita hidup di zaman ketika banyak orang hafal kehidupan para tokoh publik. Kita mengetahui siapa yang sedang viral, apa yang mereka kenakan, bagaimana gaya hidup mereka, bahkan mengikuti aktivitas mereka setiap hari melalui media sosial. Tetapi apakah kita memiliki kedekatan yang sama dengan sirah Rasulullah Saw? Apakah kita mengenal bagaimana beliau memperlakukan anak-anak, menghormati orang tua, memuliakan perempuan, memperlakukan orang miskin, menghadapi orang yang berbeda, menyelesaikan konflik, memimpin masyarakat, mendidik generasi, dan menghadapi berbagai bentuk penolakan?
Padahal Rasulullah Saw bukan hanya sosok yang kita kagumi. Beliau adalah uswah hasanah, teladan terbaik. Sirah beliau bukan sekadar cerita masa lalu yang dibaca untuk menambah wawasan keislaman. Sirah adalah cermin yang membantu kita melihat bagaimana Islam hadir dalam kehidupan nyata.
Karena itu, semakin kita mengenal Rasulullah Saw, seharusnya semakin kita menemukan bagian diri yang perlu diperbaiki.
Kita mungkin menangis ketika mendengar kisah perjuangan beliau, tetapi apakah kita mampu meneladani kesabarannya? Kita mungkin lantang menyatakan cinta kepada beliau, tetapi apakah lisan kita aman dari menyakiti orang lain? Kita mungkin rajin bershalawat, tetapi apakah kita sudah belajar menjadi pribadi yang amanah, jujur, lembut, dan penuh kasih sebagaimana yang beliau contohkan?
Di sinilah Maulid seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar panggung seremoni.
Jangan sampai kita sibuk mempersiapkan acara Maulid, tetapi lupa mempersiapkan perubahan diri. Jangan sampai panggung dibongkar, pengeras suara dimatikan, konsumsi dibagikan, lalu semuanya selesai. Padahal semestinya justru setelah majelis selesai, perjuangan meneladani Rasulullah Saw dimulai.
Sebab Rasulullah tidak membutuhkan seremoni dari kita. Kitalah yang membutuhkan keteladanan beliau.
Kita membutuhkan beliau ketika dunia semakin kehilangan arah. Kita membutuhkan akhlaknya ketika ruang publik dipenuhi kemarahan. Kita membutuhkan kelembutannya ketika perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan. Kita membutuhkan ketegasannya ketika prinsip mulai dikompromikan. Kita membutuhkan perjuangannya ketika umat mulai nyaman dengan keadaan dan lupa pada tanggung jawab dakwah.
Terlebih bagi orang tua dan pendidik, momentum Rabiul Awal semestinya menjadi kesempatan untuk bertanya: sudahkah kita mengenalkan Rasulullah Saw kepada generasi bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai manusia yang layak mereka cintai dan teladani?
Anak-anak hari ini hidup di tengah budaya follow. Mereka mengikuti siapa yang mereka kagumi. Mereka meniru gaya bicara, penampilan, kebiasaan, bahkan cara berpikir orang yang mereka lihat di layar. Maka persoalannya bukan apakah anak akan memiliki idola. Mereka hampir pasti akan memiliki sosok yang dikagumi. Persoalannya adalah siapa yang kita hadirkan sebagai standar keteladanan mereka.
Jika anak hanya mengenal tokoh yang populer, mereka akan belajar mengejar popularitas. Jika yang dikagumi adalah kemewahan, mereka akan menganggap kekayaan sebagai ukuran keberhasilan. Tetapi jika sejak dini mereka dikenalkan kepada Rasulullah Saw, mereka belajar bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh popularitas, harta, atau penampilan, melainkan oleh ketakwaan, akhlak, dan kontribusinya bagi kehidupan.
Karena itu, mengenalkan Rasulullah Saw kepada anak tidak cuku dengan meminta mereka menghafal nama, tanggal, atau peristiwa dalam sirah. Kita perlu menghadirkan kisah beliau sebagai nilai yang hidup. Ketika anak berbuat salah, kita ajarkan bagaimana Rasulullah Saw mendidik dengan hikmah. Ketika anak berselisih, kita kenalkan bagaimana beliau menyelesaikan persoalan. Ketika anak merasa sedih, kita ceritakan bagaimana Rasulullah Saw memperlakukan orang-orang yang sedang berada dalam kesulitan. Dengan demikian, sirah tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi sumber inspirasi untuk bertindak.
Pada akhirnya, Maulid seharunya mengantarkan kita pada tiga perjalanan: mengenal, mencintai, dan mengikuti.
Kita mengenal Rasulullah Saw melalui sirah dan ajarannya. Dari pengenalan itu tumbuh kekaguman dan cinta. Tetapi cinta tidak boleh berhenti sebagai rasa haru. Cinta harus bergerak menjadi ittiba—berusaha mengikuti petunjuk dan teladan beliau dalam kehidupan.
Sebab ada perbedaan besar antara mengagumi dan meneladani. Mengagumi membuat kita berkata, “Alangkah mulianya Rasulullah Saw” Meneladani membuat kita bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan agar kemuliaan akhlak itu hadir dalam diriku?”
Mengagumi membuat kita senang mendengar kisah beliau Meneladani membuat kita berusaha mengubah perilaku setelah mendengarnya.
Mengagumi membuat kita mencintai sosoknya. Meneladani membuat kita berusaha mengikuti jalannya.
Maka Rabiul Awal jangan hanya menjadi bulan ketika kita banyak berbicara tentang Rasulullah Saw . Jadikan ia momentum untuk mengevaluasi sejauh mana sunnah dan teladan beliau hadir dalam rumah kita, sekolah kita, pekerjaan kita, cara kita mendidik anak, cara kita memperlakukan pasangan, cara kita menghadapi perbedaan, dan cara kita berinteraksi dengan masyarakat.
Sebab Maulid yang bermakna bukan hanya yang membuatkita menangis ketika mendengar kisah Rasulullah Saw, tetapi yang membuat kita malu ketika akhlak kita ternyata masih jauh dari akhlak beliau.
Bukan hanya yang membuat kita ramai mengucapkan cinta, tetapi yang membuat kita bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
Bukan hanya yang membuat kita mengenang kelahiran beliau, tetapi yang membuat keteladanan beliau “lahir kembali” dalam perilaku kita.
Karena itu, ketika Rabiul Awal datang, mari berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: sudahkah aku benar-benar mengenal Rasulullah Saw? Sudahkah aku mencintainya dengan cinta yang melahirkan ketaatan? Dan sudahkah cintaku itu terlihat dalam ittiba kepada beliau?
Sebab pada akhirnya, ukuran cinta bukanlah seberapa indah kita mengatakannya, tetapi seberapa sungguh kita mengikuti yang kita cintai.
Mengenal melahirkan cinta. Cinta melahirkan ittiba. Dan ittiba adalah salah satu bukti bahwa cinta itu benar-benar hidup.
Semoga Rabiul Awal tahun ini tidak sekadar berlalu sebagai kalender tahunan, tetapi menjadi titik balik: dari sekadar mengenang Rasulullah Saw menuju benar-benar meneladani beliau; dari sekadar mengagumi menuju mengikuti; dari sekadar berbicara tentang cinta menuju membuktikannya dalam kehidupan.
Karena Rasulullah Saw bukan hanya untuk dikenang. Beliau untuk dikenal, dicintai, dan diikuti. Wallahu a’lam bishowab.
Selvi Sri Wahyuni, M.Pd.






